Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 30 Sosiologia Ramadan 1447: Kisah yang saya alami menjadi pelajaran yang begitu dalam

Oleh            H.M.Ihsan Darwis Dosen         Sosiologi Agama IAIN Parepare Malam ini adalah malam penutupan bulan Ramadhan 1447 H. Namun s...

Oleh            H.M.Ihsan Darwis

Dosen         Sosiologi Agama IAIN Parepare

Malam ini adalah malam penutupan bulan Ramadhan 1447 H. Namun semoga bukan malam terakhir bagi kita semua. Amin. Ada perbedaan makna yang sering luput kita pahami: malam penutupan adalah berakhirnya sebuah waktu ibadah, sedangkan malam terakhir adalah batas kehidupan seseorang. Yang pertama pasti terjadi setiap tahun, sedangkan yang kedua adalah rahasia Allah yang tidak pernah kita ketahui kapan datangnya. Pada suatu hari saya bertamu ke rumah seorang keluarga yang saya tidak sebut namanya dan usianya sekitar 58 tahun. Pada saat itu beliau sedang dalam proses mengurus pensiun. Kami duduk bersama dan berbincang santai, dan beliau menghisap sebatang rokok. Karena disuguhi, saya pun ikut merokok. Tiba-tiba istrinya dari dalam rumah berteriak: "Bapak, berhenti merokok! Urus dulu pensiun ta, nanti bermasalah lagi administrasinya!" Ucapan itu diulang sampai tiga kali:

"Berhenti maki merokok, berhenti maki merokok, berhenti maki merokok…" Si-pulang menjawab dengan tenang: “Sabar Ibu ini terakhir mi rokok saya hisap dan setelah ini saya tidak merokok lagi." Namun tak lama setelah rokok itu dihabiskan, beliau tiba-tiba jatuh tersungkur ke lantai. Saya panik, memanggil istrinya, dan kami segera membawanya ke rumah sakit. Akan tetapi takdir berkata lain, beliau menghembuskan napas terakhirnya. Sejak saat itu, saya menyimpan trauma dan pelajaran besar dari peristiwa tersebut. Kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah: "Ini terakhir mi rokok saya." Seolah-olah kata “terakhir” itu menjadi penutup hidupnya. Sejak saat itu, saya sangat berhati-hati dalam menggunakan kata “terakhir”. Bukan karena kita bisa menentukan ajal, akan tetapi karena saya menyadari bahwa ucapan itu adalah bagian dari doa. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha menghindari kata-kata tersebut. Bahkan ketika mengajar, saya tidak pernah mengatakan “ini pertemuan terakhir bagi kita”, melainkan saya katakan, “kita tutup pertemuan ini dengan doa.” Pernah ada mahasiswa yang bercanda berkata, “Terakhir mi ini pak pertemuan kita.” Saya pun menjawab dengan ringan, “Bukan terakhir bagi saya, saya masih ingin hidup. Saya punya tanggung jawab besar: istri dan enam anak yang harus saya jaga.” Dari pengalaman ini, ada pelajaran besar yang bisa kita renungkan, terutama di penghujung Ramadhan:

1. Kematian adalah rahasia Allah Swt. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajalnya tiba. Allah berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِۗ “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran 3:185) Dan juga:“Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” , وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ (QS. Luqman 31:34) Artinya, kita tidak bisa memastikan apakah Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita atau bukan. Dan semoga kita semua selalu sehat wal-afiat dan diberi umur panjang oleh Allah Swt 

2. Ucapan adalah doa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian… (HR. Sahih Muslim). Ucapan yang keluar dari lisan seorang mukmin memiliki kekuatan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk berkata baik.

3. Pentingnya menjaga lisan. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim) Ini menjadi pengingat bahwa setiap kata yang kita ucapkan bukan sekedar suara, tetapi memiliki makna dan dampak. 

Penutup Reflektif. Maka di malam penutupan Ramadhan ini 1447 tahun 2026, mari kita luruskan niat dan memperbaiki diri. Jangan pernah menganggap ini sebagai “Ramadhan terakhir”, tetapi anggaplah ini sebagai Ramadhan terbaik yang pernah kita jalani. Kita tidak tahu apakah kita akan bertemu Ramadhan berikutnya, tetapi yang pasti kita masih diberi kesempatan hidup hari ini. Gunakan lisan kita untuk doa yang baik. Gunakan waktu kita untuk amal yang bermanfaat. Dan gunakan hidup kita untuk mendekat kepada Allah. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang dan seterusnya dalam keadaan sehat wal-afiat dan penuh iman. Amin Wallahu a’lam bishawab. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. 

Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin! Semoga kita semua kembali ke fitrah, meraih kemenangan melawan hawa nafsu, dan mendapat keberkahan di Hari Raya Idul Fitri. Ungkapan ini adalah doa agar kita menjadi golongan yang beruntung, serta menjadi momen tepat untuk mempererat silaturahmi. H.M. Ihsan Darwis dan Keluarga





Tidak ada komentar