Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Sosiologia Ramadan 1447: 30 Hari Tidak Sekadar Cerita, Ramadan Mengubah Cara Kita Melihat Sesama

Oleh A.Nurul Mutmainnah, M.Si Ramadan sering kali dipahami sebagai rutinitas tahunan yang berulang. Bangun sahur, mengaji, berdzikir, beriba...

Oleh A.Nurul Mutmainnah, M.Si

Ramadan sering kali dipahami sebagai rutinitas tahunan yang berulang. Bangun sahur, mengaji, berdzikir, beribadah, menahan lapar, menunggu waktu berbuka, lalu mengulangnya kembali keesokan hari. Dalam banyak kasus, ia berjalan seperti siklus yang familiar, bahkan cenderung terasa biasa.

Namun, pengalaman sosial selama 30 hari terakhir menunjukkan bahwa Ramadan tidak selalu sesederhana itu.

Yang menarik, perjalanan ini justru dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: tulisan.

Selama Ramadan, hadir 33 tulisan yang secara konsisten mengiringi hari-hari tersebut. Tiga puluh di antaranya ditulis oleh dr. Ihsan Darwis, sementara satu tulisan oleh Mahyuddin, dan dua tulisan oleh saya sendiri. Jika dibaca sekilas, tulisan-tulisan tersebut tampak seperti refleksi harian yang ringan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, terdapat satu benang merah yang kuat, yaitu upaya menghubungkan antara nilai keagamaan, kepedulian sosial, dan kehidupan sehari-hari.

Menariknya, tulisan-tulisan tersebut tidak hanya dibaca, tetapi juga mendapatkan respons yang meningkat secara signifikan. Data menunjukkan bahwa jumlah pembaca naik dari 18.595 viewers pada bulan sebelumnya menjadi 39.100 viewers selama Ramadan. Peningkatan lebih dari dua kali lipat ini mengindikasikan bahwa refleksi keagamaan yang dikaitkan dengan realitas sosial memiliki daya tarik yang kuat di tengah masyarakat. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa publik tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga makna.

Tulisan-tulisan Dr. Ihsan Darwis, yang paling dominan, secara perlahan membangun kesadaran bahwa praktik keagamaan tidak berhenti pada ibadah personal. Puasa dipahami bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan untuk merasakan kondisi orang lain. Sedekah tidak hanya dimaknai sebagai pemberian, tetapi sebagai cara untuk mengurangi jarak sosial.


Di titik ini, Ramadan bergeser dari sekadar ritual menuju ruang pembelajaran sosial.

Tulisan Mahyuddin melengkapi gagasan tersebut dengan penekanan pada tindakan. Bahwa pemahaman yang baik perlu diikuti dengan praktik nyata. Sementara itu, terdapat juga tulisan saya menyelip  memperkaya refleksi dengan menghadirkan sisi yang lebih personal, terutama terkait bagaimana individu memaknai pengalaman hidup, memilih kepedulian, dan menghadapi keterbatasan relasi sosial.

Jika dirangkum, keseluruhan tulisan tersebut membentuk satu alur yang utuh: nilai, refleksi, dan tindakan.

Menariknya, alur tersebut tidak berhenti di ruang tulisan.

Nilai-nilai yang dibangun melalui refleksi justru menemukan bentuknya dalam praktik sosial. Mahasiswa yang tergabung dalam HMPS turun langsung ke masyarakat, membagikan takjil kepada kelompok yang sering terabaikan seperti tukang becak, pemulung, dan pengguna jalan. Respons yang muncul beragam, mulai dari rasa heran hingga doa tulus yang mengalir spontan.

Pada momen tersebut, terlihat bahwa kepedulian sosial tidak memerlukan panggung besar. Ia justru tumbuh dari interaksi sederhana yang dilakukan dengan ketulusan.

Kegiatan berlanjut ke wilayah pesisir. Sebuah pantai yang dulunya merupakan taman rekreasi kini menghadapi persoalan sampah plastik. Di tempat ini, mahasiswa tidak hanya melakukan aksi simbolik, tetapi benar-benar mengumpulkan sampah dan menyediakan alat kebersihan seperti sapu serta tempat sampah.


Langkah tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup pada tataran wacana, melainkan perlu diwujudkan dalam tindakan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, proses pembelajaran formal juga tetap berlangsung. Dosen-dosen Sosiologi Agama secara konsisten mengajar, baik secara langsung maupun daring, sepanjang Ramadan. Dalam proses tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa agama memiliki dimensi sosial yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, refleksi ini juga mengingatkan bahwa realitas sosial tidak selalu berjalan ideal. Ketimpangan, keterbatasan akses, serta kondisi hidup yang stagnan masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran sosial, meskipun penting, tetap membutuhkan dukungan perubahan struktural yang lebih luas.

Dalam konteks ini, seluruh rangkaian tulisan selama Ramadan dapat dipahami sebagai upaya membangun kesadaran kolektif, yaitu kesadaran bersama tentang nilai, tanggung jawab, dan hubungan sosial. Kesadaran ini tidak muncul secara instan, tetapi dibentuk melalui proses refleksi yang berulang dan pengalaman sosial yang nyata.

Apresiasi khusus layak diberikan kepada Dr. Ihsan Darwis atas konsistensinya menulis sepanjang Ramadan. Dengan jumlah tulisan yang paling banyak, ia tidak hanya menghadirkan gagasan, tetapi juga menjaga ritme refleksi publik secara berkelanjutan. Dalam konteks meningkatnya jumlah pembaca, kontribusi ini menjadi semakin signifikan karena berhasil menjembatani wacana keagamaan dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Pada akhirnya, 30 hari Ramadan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia bisa berangkat dari tulisan sederhana, berkembang menjadi pemahaman, dan kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ketika Ramadan berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga pertanyaan: sejauh mana kesadaran yang telah dibangun dapat terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena di situlah letak tantangan yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar