Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 29 Sosiologia Ramadan 1447: Fenomena Isu Global Ramadhan 1447

Oleh          H.M.Ihsan Darwis Dosen        Sosiologi Agama IAIN Parepare Penulis mencoba mengangkat tulisan ini pada malam ke-29 Ramadhan 1...

Oleh          H.M.Ihsan Darwis
Dosen        Sosiologi Agama IAIN Parepare

Penulis mencoba mengangkat tulisan ini pada malam ke-29 Ramadhan 1447 H, sebuah malam yang bagi umat Islam sering dipenuhi dengan suasana spiritual, harapan akan turunnya Lailatul Qadar, serta momentum refleksi terhadap kehidupan umat manusia. Namun di tengah hiruk pikuk suasana ibadah dan ketenangan spiritual tersebut, dunia justru disuguhi berbagai kabar tentang ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di Timur Tengah. Hampir setiap hari, ketika masyarakat membuka berbagai kanal informasi seperti YouTube, media sosial, maupun televisi nasional, berita yang muncul didominasi oleh isu konflik antara Israel dan Iran. Berbagai media menampilkan analisis politik, diskusi para pengamat, serta perdebatan tentang kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Bahkan beberapa program berita di televisi Indonesia menampilkan diskusi dengan judul yang cukup provokatif, seperti “Iran vs Israel: Siapa Pemenangnya?” Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik tersebut tidak lagi sekedar persoalan regional di Timur Tengah, tetapi telah berkembang menjadi isu global yang menarik perhatian masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

 Jika dilihat dari perspektif fenomena sosial, penyebaran isu konflik Iran dan Israel tidak dapat dilepaskan dari peran media digital dan media massa yang sangat kuat dalam membentuk opini publik. Dalam era informasi saat ini, konflik yang terjadi di suatu kawasan dengan cepat menjadi konsumsi publik global melalui Video, analisis politik, bahkan narasi propaganda dapat menyebar dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Akibatnya muncul berbagai fenomena sosial yang dilandasi berbagai polarisasi opini publik. Masyarakat dunia melihat fenomena ini menjadi tegang, ada yang mendukung Iran dan ada pula yang membelah Israil dan ada pula yang melihat konflik ini memicu reaksi masyarakat terutama ketika dikaitkan dengan isu agama, kemanusiaan maupun keadilan global. Sebenarnya: Siapa yang menang ? dan siapa yang kalah? akibat dari konflik tersebut sering dipandang sebagai pertandingan kekuatan militer, pada hal yang terjadi sebenarnya adalah krisis kemanusiaan dan konflik geopolitik yang kompleks.

Menariknya, fenomena ini terjadi pada bulan Ramadhan 1447, bulan dalam tradisi Islam dipandang sebagai bulan perdamaian, pengendalian diri, dan refleksi moral. Oleh karena itu, konflik yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia mengingatkan kita bahwa umat manusia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun perdamaian maupun keadilan. Dalam perspektif sosiologi agama, kondisi ini menunjukkan bahwa agama sering berada dalam dua posisi sekaligus yakni: di satu sisi menjadi sumber nilai perdamaian, akan tetapi dimensi yang lain dapat dijadikan simbol legitimasi konflik politik. Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan Israel bukan sekedar persoalan militer atau politik luar Negeri. 

Akan tetapi telah berkembang menjadi isu-isu fenomena sosial global yang mempengaruhi persepsi masyarakat dunia melalui media sosial, narasi ideologi, serta solidaritas keagamaan. Oleh karena, tulisan ini mencoba mengurai intisari mengenai konflik tersebut, tidak hanya dari sudut pandang politik, akan tetapi juga melalui perspektif sosiologi agama, agar kita dapat memahami akar persoalan secara lebih mendalam dan melihat bagaimana konflik ini membentuk kesadaran sosial masyarakat belahan dunia. Orang-orang menganggap konflik Iran Vs Israil adalah konflik Islam vs Yahudi, akan tetapi dalam kajian sosiologi agama, konflik ini sebenarnya jauh lebih kompleks. Agama bukan hanya keyakinan spiritual, akan tetapi juga identitas sosial kolektif yang membentuk cara masyarakat melihat “kita” dan “mereka”. Mari kita amati sejarah ini yang menunjukkan sebuah fakta sosial yang menarik: dulu Iran dan Israil pernah menjadi sekutu tetapi perubahan ideologi dan kepentingan politik dapat mengubah persahabatan menjadi permusuhan akibat karena kepentingan politik, ideology akibat dinamika kekuasaan global. Negara Israil berdiri tahun 1948, setelah keputusan PBB membagi Palestina dan diproklamasikan oleh David Ben-Gurion. Sedangkan Iran pada masa Shah Mohammad Reza Pahlavi pernah menjadi sekutu Israil dan menjalin kerja sama ekonomi, militer, diplomatik. Permusuhan baru terjadi setelah Revolusi Iran 1979 yang mengubah orientasi politik Iran dan memutus hubungan dengan Israel. Dari sinilah akar permasalahan antara Israil Vs Iran. Dan kondisi ini disebut sebagai politicization of religion, yaitu ketika agama menjadi alat legitimasi bagi kebijakan politik. 

Menariknya, sebelum menjadi musuh seperti sekarang ini, Iran vs Israel pernah memiliki hubungan cukup kuat dan ketika Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi menjadi salah satu negara Muslim pertama yang mengakui Israel secara de facto. Pengakuan ini lebih didasarkan pada kepentingan geopolitik, bukan faktor agama. Pada tahun 1950-an hingga 1970-an hubungan antara kedua negara cukup kuat membangun diplomasi politik kedua Negara dan membentuk kerja sama yang terjadi antara lain seperti: perdagangan minyak, sementar Iran menjadi aktor pemasok utama minyak. Sedangkan Israel memberikan teknologi pertanian dan militer kepada Iran termasuk Badan intelijen Israel membantu melatih aparat keamanan Iran pada masa pemerintahan seacara Shah. Bahkan Israil memiliki kantor diplomatik di Teheran hingga pada tahun 1979. 

Pada masa itu kedua negara memiliki kepentingan yang sama, yaitu: menghadapi pengaruh negara-negara Arab menjaga hubungan dengan Barat dan Amerika Serikat. Setelah itu runtuh seketika hubungan Iran dan Israil berubah secara drastis, setelah revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Dan setelah revolusi Iran berubah menjadi Republik Islam sedangkan Israel dianggap sebagai penjajah Palestina sehingga kedua hubungan diplomatik menjadi disintegrasi atau terputus seketika. Sejak saat itu Iran menjadikan perlawanan terhadap Israil sebagai bagian dari kebijakan politik luar negeri dan mendukung perjuangan Palestina. Iran menganggap Israil sebagai negara yang tidak sah dan simbol dominasi Barat di Timur Tengah. 

Pemerintah Iran menjadikan perjuangan Palestina sebagai bagian dari misi revolusi Islam. Perubahan ideologi ini menjadikan permusuhan politik dibungkus dengan bahasa agama. Pada perinsipnya bahwa konflik antara Iran dan Israel bukan sekedar persoalan yang benar dan salah. Akan tetapi konflik ini merupakan hasil dari: perubahan ideologi politik setelah revolusi Iran, pertarungan identitas agama dan nasional, solidaritas keagamaan dalam isu-isu Palestina, narasi sejarah yang memperkuat permusuhan. Selama agama dijadikan pemicu politik, dan identitas terus dipakai sebagai alat mobilisasi massa, konflik ini berpotensi terus berlangsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi sekedar persoalan regional di Timur Tengah, tetapi telah berkembang menjadi isu global yang menarik perhatian masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, penyelesaian konflik tidak cukup melalui pendekatan militer atau diplomasi  kedua negara, akan tetapi juga membutuhkan dialog lintas agama, rekonstruksi narasi perdamaian, dan pendekatan kemanusiaan. 

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb” (والله أعلم بالصواب) Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya




Tidak ada komentar