Oleh H.M.Ihsan Darwis Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare Dari jumlah 12 bulan yang ada dalam agama kita, setiap tahun, Ra...
Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa di tengah kesalehan ritual yang meningkat pada bulan Ramadhan, perilaku korupsi masih saja terjadi? Masjid-masjid dipenuhi jamaah, kegiatan keagamaan semakin semarak, akan tetapi pada sisi yang lain kejujuran dan integritas dalam kehidupan sosial masih menghadapi tantangan yang serius. Ironis nya sering muncul dalam kehidupan masyarakat, ketika agama dijalankan sebagai ritual keagamaan, akan tetapi belum sepenuhnya menjadi pedoman dalam tindakan sosial. Pada dasarnya korupsi bukan sekedar pelanggaran norma hukum, melainkan juga pelanggaran moral dan etika sosial karena adanya dari keserakahan sosial, dan keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara yang tidak benar. Dampaknya, tidak hanya merugikan Negara, institusi atau lembaga tertentu, akan tetapi merusak kepercayaan (trust) masyarakat dan memperlebar kesenjangan sosial. Ketika seseorang melakukan korupsi, yang dirampas sebenarnya bukan hanya uang atau benda lainnya tetapi juga hak-hak masyarakat yang seharusnya dilindungi.
Sesungguhnya, Ramadhan hadir untuk menggugah kesadaran moral dan etika manusia melalui puasa yang kita kerjakan selama ini dan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga latihan spiritual untuk menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang merugikan orang lain. Dalam agama Islam terdapat pesan moral yang sangat kuat: jika seseorang mampu menahan diri dari sesuatu yang halal demi menjalankan perintah Allah, maka seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari sesuatu yang jelas-jelas haram, seperti korupsi dan sebagainya. Dari pengalaman itulah seharusnya lahir kesadaran sosial untuk tidak merampas hak orang lain, apalagi melalui praktik korupsi yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Ramadhan mengajarkan bahwa kekayaan dan kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, akan tetapi nilai-nilai moral yang harus dipegang secara bersama sama.
Dalam perspektif etika sosial, korupsi dapat dihentikan jika kesadaran moral individu tumbuh kuat dalam diri setiap orang. Aturan hukum maupun regulasi memang penting, tetapi tanpa integritas pribadi, semua aturan bisa saja dilanggar. Di sinilah peran nilai-nilai keagamaan menjadi sangat penting karena agama bukan sekedar mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga membentuk karakter manusia agar menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab terhadap sesama manusia. Ketika hati manusia disentuh oleh nilai-nilai spiritual, maka akan muncul kesadaran untuk memperbaiki diri dan meninggalkan perilaku yang merugikan orang lain. Andaikan puasa bulan ini yang kita jalankan selama ini dengan penuh keikhlasan dapat melahirkan pribadi yang lebih bersih, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap keadilan sosial. Olehnya itu, Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada kesalehan individual semata, tetapi juga melahirkan kesalehan sosial. Kesalehan yang tidak hanya tampak dalam ibadah di dalam masjid, akan tetapi menjadi tercermin dalam kejujuran tempat kerja kita bersama dan tanggung jawab terhadap amanah, serta dalam komitmen untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ketika Ramadhan benar-benar mengetuk pintu hati manusia, maka yang lahir bukan hanya pribadi yang rajin beribadah, akan tetapi masyarakat yang menjunjung tinggi integritas sosial. Dan jetika pintu hati manusia yang tersentuh dan perubahan sosial dapat dimulai sebuah perubahan yang perlahan dapat mengikis budaya korupsi dalam kehidupan bersama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa korupsi sering kali berakar pada budaya sosial yang permisif. Ketika sebuah masyarakat mulai menganggap perilaku tidak jujur sebagai sesuatu yang lumrah, maka praktik korupsi akan semakin sulit diberantas. Dalam kondisi seperti ini, hukum saja tidak cukup untuk mengubah keadaan. Akan tetapi diperlukan adalah perubahan kesadaran kolektif dalam masyarakat. Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran sosial dibulan Ramadhan ini, teramsuk mengajak masyarakat secara umum untuk melakukan introspeksi diri, melihat kembali apakah selama ini kita benar-benar telah menjalankan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari - hari? Apakah kita sudah menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab? atau justru sering mengambil keuntungan dari posisi yang kita miliki? Pertanyaan ini harus dijawab dengan penuh keyakinan. Bahwa dalam realitas sosial, kita juga menyaksikan adanya kesenjangan antara gaya hidup sebagian elite dengan kondisi masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ketika korupsi terjadi ditengah masyarakat, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil: mereka akan kehilangan akses terhadap layanan publik, termasuk pendidikan yang berkualitas, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, melawan korupsi pada hakikatnya juga merupakan bentuk pembelaan terhadap keadilan sosial.
Perubahan sosial yang besar selalu dimulai dari perubahan dalam diri manusia dan bahkan Ramadhan hadir ditengah masyarakat untuk mengetuk pintu hati manusia, agar dapat memberikan ruang perubahan bagi manusia untuk membersihkan hati yang paling dalam, memperbaiki niat tulus yang baik, dan membangun komitmen moral yang lebih kuat. Jika setiap individu mampu menjaga integritasnya, maka secara perlahan budaya korupsi dapat digantikan oleh budaya kejujuran dan tanggung jawab. Ketika Ramadhan benar-benar mengetuk hati manusia, maka yang lahir bukan hanya pribadi yang rajin beribadah, akan tetapi masyarakat yang menjunjung tinggi etika sosial dan moral, menyentuh hati manusia sehingga terjadi perubahan sosial dan dimulai dari sebuah perubahan yang mungkin tidak terjadi secara instan, akan tetapi akan tumbuh secara perlahan melalui kesadaran moral yang semakin kuat dalam kehidupan sosial secara bersama. Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh. Akan tetapi ia merupakan panggilan moral untuk membangun kehidupan sosial yang lebih jujur, adil, dan bermartabat. Jika pesan Ramadhan ini benar-benar hidup dalam diri setiap orang, maka harapan untuk mengakhiri korupsi dalam kehidupan sosial bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dapat diwujudkan ditengah masyarakat secara bersama-sama. Wallahu a‘lam bish-shawab. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Tidak ada komentar