Oleh H.M.Ihsan Darwis Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare Ramadhan sering kali dipahami sebagai bulan ya...
Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare
Ramadhan sering kali dipahami sebagai bulan yang penuh dengan ibadah ritual. Dan menjadikan Masjid-masjid lebih ramai dari biasanya dan disertai dengan suara lantunan Al-Qur’an yang terdengar hampir di setiap sudut kota atau perkampungan. Para pengurus Masjid bersama jamaah berbondong - bondong datanguntuk melaksanakan shalat, mendengarkan ceramah agama, kemudian lanjut salat tarwihsecara berjamaah disertai dengan zikir dan doa. Dalam suasana seperti ini, Ramadhan seolah - olah menghadirkan ruang spiritual yang membuat manusia lebih dekat kepada Tuhannya.Namun di balik keramaian ibadah tersebut, Ramadhan juga menghadirkan sebuah perjalanan yang lebih sunyi yaitu perjalanan menuju kepedulian sosial. Jalan sunyi ini tidak selalu terlihat dalam keramaian jamaah di masjid, akan tetapi hadir dalam kepekaan hati yang tulus,ketika melihat dan merasakan penderitaan kehidupan orang lain di sekitarnya. Dalamkehidupan sosial masyarakat, sering kita menemukan fenomena sosial yang sederhana namun penuh makna. Pada suatu malam di bulan ramadhan , seorang jamaah pulang dari masjid setelah mengikuti shalat tarawih dan jalan yangia lalui cukup sepi, hanya diterangi lampu -lampu rumah yang redup. Ketika melewati sebuah rumah kecil di ujung lorong, ia melihat seorang anak duduk di teras sambil memegang piring berisi nasi dan lauk yang sangat sederhana dan anak itu makan sendirian dengan perlahan.Para jamaah tersebut sempat terhenti sejenak, ketika ia teringat suasana berbuka puasa di rumahnya yang selalu penuh dengan berbagai hidangan. Seperti: kurma, minuman manis, dan makanan yang beragam. Sementara di hadapannya pada malam itu, ada seorang anak yang berbuka dengan kesederhanaan yang jauh berbeda. Momen singkat itu membuat hatinyatersentuh, kemudian ia menyapa anak tersebutdan menanyakan kabarnya. Percakapan sederhana itu membuka cerita bahwa anak tersebut tinggal bersama neneknya yang sudahtua, sementara orang tuanya bekerja di luar daerah. Peristiwa kecil itu menjadi pelajaranyang mendalam bagi para jamaah termasuk kita semua. Ialu ia menyadari bahwa Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah di dalam masjid, akan tetapi juga tentang membuka mata hati terhadap realitas dalam kehidupan sosial masyarakat.
Dalam perspektif sosial, pengalaman seperti ini merupakan bagian dari proses pembentukan empati. Sedangkan empati lahir bukan hanyadari teori atau ceramah, akan tetapi dari perjumpaan manusia dengan realitas kehidupan orang lain. Sehingga Ramadhan menjadi momentum yang sangat kuat untukmembangkitkan kesadaran sosial. dan ketika seseorang menahan lapar dan haus sepanjanghari, ia mulai memahami bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan? Dari berbagai pengalaman tersebut maka lahirlah kepedulian sosial. Dan kepedulian ini tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan besar. Akan tetapi kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana misalnya: menyapa tetangga yang jarang ditemui, membantu orang yang membutuhkan, atau sekedar memberikan perhatian kepada mereka yang sering merasa sendiri dalam kehidupan sosial. Perjalanan menuju kepedulian sosial tersebut memang sering kali merupakan jalan yang sunyi dan tidakselalu terlihat oleh banyak orang atau tidak juga selalu disertai dengan pujian.
Agama mengajarkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan keikhlasan sering kali lahirdari hati yang peka terhadap penderitaan orang lain. Ramadhan sesungguhnya adalah sekolah sosial yang melatih manusia untuk memiliki kepekaan tersebut. Puasa bukan hanya menahanlapar dan haus, tetapi juga menahan ego dan membuka ruang empati terhadap sesama manusia. Ketika seseorang mampu merasakan penderitaan orang lain, maka di situlah lahir kepedulian sosial yang tulus. Oleh karena itu, perjalanan Ramadhan tidak seharusnya berhenti pada aktivitas ritual di dalam masjid. Akan tetapispirit Ramadhan harus terus berjalan keluar darimasjid dan menyentuh kehidupan sosial masyarakat, dan bahkan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan interaksisosial.
Dalam perspektif sosiologi agama, pengalamanseperti ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan dapat menjadi sumber lahirnya kesadaran sosial. Agama tidak hanya mengajarkan manusia untuk beribadah secaraindividual, akan tetapi juga mengajarkan tanggung jawab sosial terhadap sesama manusia. Ketika nilai-nilai agama benar-benar dihayati, maka ia akan melahirkan perilaku sosial yang lebih empatik dengan penuh kepedulian.Ramadhan merupakan momentum yang sangat kuat untuk membangun kesadaran sosialtersebut. Selama satu bulan penuh, umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri, menahan hawanafsu, dan merasakan penderitaan orang lain. Proses ini sebenarnya merupakan pendidikansosial yang sangat mendalam karena ia mengajarkan manusia untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, akan tetapi juga memperhatikan kehidupan sosial masyarakatlah nya. Namun dalam perjalanan menuju kepedulian sosial tidak selalu terlihat secaramencolok tetapi ia sering berlangsung secara perlahan dan diam-diam di dalam hati manusia. Banyak orang yang mungkin tidak dikenal olehmasyarakat luas, tetapi setiap hari melakukan kebaikan kecil yang memberi dampak besar bagi kehidupannya orang lain. Inilah yang dapat disebut sebagai jalan sunyi menuju kepedulian sosial.Perjalanan sunyi ini mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau gerakan yang spektakuler.Namun demikian, kadang-kadang perubahan justru lahir dari kesadaran individu yang kemudian menular kepada orang lain. Ketika satu orang saja yang mulai peduli terhadap sesamanya dan kepedulian itu dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan halyang sama. Dari situlah terbentuk jaringan sosial terhadap kebaikan dan secara perlahan memperkuat solidaritas sosial dikalangkan masyarakat. Oleh karena itu, pada malam ke 22 Ramadhan bukan hanya waktu untuk memperbanyak doa dan ibadah, akan tetapi jugawaktu untuk membuka mata hati terhadaprealitas sosial dalam kehidupan masyarakat yang selama ini terbelenggu dengan penderitaan. Mungkin saja di sekitar kita ada orang yang tidak membutuhkan bantuan besar, akan tetapi ia membutuhkan perhatian, sapaan, atau sedikit kepedulian.
Pada perinsipnya, Ramadhan mengajarkan kepada kita semua terhadap kepedulian sosial, bukanlah sesuatu yang rumit, tetapi ia dimulai daripada hati yang mau melihat, telinga yang maumi dengar, dan tangan yang mau membantu terhadap kesulitan orang lain. Perjalanan menuju kepedulian sosial itu memang sering sunyi, akan tetapi justru di jalan itulah manusia menemukan makna ibadah yang sesungguhnya. SemogaRamadhan tahun ini 1447 tidak hanya menjadikan kita lebih dekat kepada Allah SWT, akan tetapi juga menjadikan kita lebih dekat dengan sesama manusia. Pada akhirnya, kemuliaan ibadah tidak hanya diukur dari panjangnya doa yang dipanjatkan, tetapi jugadari sejauh mana doa itu melahirkan kasihsayang dalam kehidupan sosial masyarkat serta memahami arti kemanusiaan yang sebenarnya. Wallahu a‘lam bish-shawab. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Consistency is the key to Drift Hunters reaching glory. It is not enough to perform one great drift.
BalasHapus