Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 12 Sosiologia Ramadan 1447: Naluri Manusia: Antara Dorongan Alamiah dan Tanggung Jawab Moral

Oleh        H.M.Ihsan Darwis Dosen     Sosiologi Agama IAIN Parepare Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menyaksikan bagaimana...



Oleh        H.M.Ihsan Darwis
Dosen     Sosiologi Agama IAIN Parepare

Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menyaksikan bagaimana manusia digerakkan oleh dorongan yang muncul begitu saja: marah ketika disakiti, takut ketika terancam, tertarik ketika melihat sesuatu yang menyenangkan. Semua itu namanya naluri fitrah, tertanam dalam diri manusia. Namun dalam konteks agama dan norma sosial, naluri itu dorongan alamiah diuji oleh tanggung jawab moral. Oleh karena itu, untuk memahami naluri manusia tidak cukup dari sisi biologis, tetapi juga harus dilihat dalam bingkai etika dan nilai spiritual. Naluri manusia hadir tanpa diajarkan, misalnya naluri seorang bayi menangis ketika ia lapar, seorang ibu terbangun saat mendengar suara kecil anaknya, dan seseorang menghindar secara spontan ketika bahaya datang dan semua itu datang secara alamiah, itulah naluri manusia.

Dalam diri manusia, naluri sering dipahami sebagai dorongan bawaan yang berkaitan dengan mempertahankan hidup. Ada naluri untuk bertahan (survival instinct), dan ada juga namanya naluri untuk berkembang biak atau nalurii untuk mencari rasa aman dan juga naluri untuk mencintai dan dicintai. Nalurii tersebut Justru ia menjadi fondasi kehidupan. Tanpa naluri, manusia akan kehilangan daya untuk menjaga dirinya maupun generasinya.

Namun, ada yang berbeda dengan makhluk lainnya, manusia tidak hanya digerakkan oleh akal dan hati nurani. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara manusia dan hewan. Jika hewan sepenuhnya mengikuti naluri, manusia diberi kemampuan untuk mengelola, mengarahkan, bahkan menahan nalurinya ketika diperlukan. Sebagai contoh, naluri marah muncul ketika seseorang merasa terancam atau diperlakukan tidak adil. Tetapi akal mengajarkan bahwa tidak semua kemarahan harus diluapkan. Ada pertimbangan etika, norma sosial, dan nilai agama yang membimbing manusia untuk bersikap bijak. Demikian pula naluri cinta dan ketertarikan. Ia hadir secara alami, terutama pada masa remaja. Akan tetapi, tanpa kendali dan bimbingan, naluri ini bisa menyeret seseorang pada keputusan yang merugikan dirinya sendiri.

Dalam fenomena kehidupan sosial, naluri membangun interaksi simbolik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Di sinilah pentingnya pendidikan dan pembinaan karakter. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membimbing naluri agar berjalan selaras dengan nilai kebaikan. Agama pun hadir untuk menuntun manusia agar tidak menjadi budak nalurinya sendiri. Naluri menahan lapar dan haus di bulan ramadhan (puasa) menjadi ibadah ketika seseorang memilih makanan yang halal, menjadi amanah ketika harta digunakan untuk kemaslahatan manusia dan bahkan naluri cinta pun menjadi suci ketika ditempatkan dalam ikatan yang sah dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, naluri bukanlah musuh yang harus dimatikan, tetapi energi yang harus diarahkan. Ia seperti api: bisa menghangatkan dan menerangi, tetapi juga bisa membakar jika tidak dikendalikan. Kematangan seseorang bukan diukur dari ada atau tidaknya naluri, melainkan dari bagaimana ia mengelolanya. Pada akhirnya, manusia yang bijak adalah manusia yang mampu berdialog dengan dirinya sendiri. Ia tidak menolak nalurinya, tetapi juga tidak menyerahkan hidup sepenuhnya pada dorongan spontan. Ia menimbang dengan akal, merasakan dengan hati, dan memutuskan dengan tanggung jawab. Karena sesungguhnya, di situlah letak kemuliaan manusia: bukan pada kuatnya naluri, tetapi pada kemampuannya untuk mengendalikan dan mengarahkannya menuju kebaikan. Di sinilah letak kemuliaan manusia. ketika diberi akal untuk berpikir, diberi hati nurani untuk merasakan, dan diberi iman untuk membimbing. Naluri adalah bahan bakar, tetapi iman adalah kemudi. Tanpa kemudi, kendaraan sekuat apa pun akan berakhir dalam kecelakaan. Maka orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam perdebatan atau pertarungan. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah, mampu menjaga pandangannya ketika tergoda, dan mampu berkata cukup ketika dunia menawarkan lebih.

Mari kita renungkan, berapa banyak masalah dalam keluarga, dalam masyarakat, bahkan dalam bangsa ini, yang sebenarnya bermula dari naluri yang tidak terkendali? Amarah yang tidak ditahan, ambisi yang tidak dibatasi, dan keinginan yang tidak diarahkan. Oleh karena itu, tugas kita bukan mematikan naluri, tetapi mendidiknya. Naluri lapar diarahkan menjadi syukur. Naluri marah diarahkan menjadi keberanian membela kebenaran. Naluri cinta diarahkan menjadi kasih sayang yang bertanggung jawab. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu mengelola diri, sehingga setiap dorongan alamiah dalam diri kita berubah menjadi jalan menuju kebaikan, bukan sebaliknya

Wallahu a'lam bishawab: Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya


Salam Ramadhan dan semoga kita selalu menjalankan aktivitas dengan penuh kesyukuran, kesabaran maupun ketabahan menjalankan ibadah puasa


Tidak ada komentar