Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 11 Sosiologia Ramadan 1447: Di Antara Tumpukan Sampah, Berdiri Sebuah Panti dan Keteguhan Iman

Oleh         H.M.Ihsan   Darwis Dosen      Sosiologi  Agama IAIN  Parepare Tulisan saya sempat terhenti tadi malam, untuk membahas seorang p...



Oleh      H.M.Ihsan Darwis

Dosen   Sosiologi Agama IAIN Parepare


Tulisan saya sempat terhenti tadi malam, untuk membahas seorang pemulung perempuan yang bernama Ibu Nurlia Lipza, berjuang untuk hidup dan menghidupi beberapa anak termasuk titipan anak. Bukan karena kisahnya habis, tetapi karena hati saya bergetar karena sesuatu yang sulit dijelaskan, bagaimana mungkin di tempat yang dipenuhi bau dan tumpukan sampah, justru saya menemukan pelajaran tentang keteguhan iman dan martabat hidup? Ternyata Ibu Nurlia Lipza ini, ironisnya bukan sekedar pemulung tetapi juga memiliki Panti Asuhan namanya “ Panti Assyifaa “ di kampung Kajang Pemulung Tamangapa  Kota Makassar.
Saya masih teringat percakapan saya pada sore hari dengan Ibu Nurlia LIpza, dengan wajah yang lelah namun tetap teduh, lalu ia berkata, “Pak Ustaz, hidup ini memang berat, tapi kalau kita yakin Allah tidak pernah salah menakar ujian, hati jadi ringan.” Kalimat itu sangat sederhana diucapkan, tetapi berat realisasinya, justru itulah yang meguncang kesadaran saya, bahwa hidup ini penuh dinamika di tengah masyarakat kota yang sering mengukur keberhasilan dari jabatan dan harta, Nulia Lipzia mengajarkan ukuran lain: keikhlasan, keteguhan dan kesabaran harus ditanamkan dalam jiwa setiap manusia dalam hidup ini, agar dia paham bahwa hidup ini penuh dengan penjuangan dan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan hati.
Dari sinilah kisah ini perlu dilanjutkan bahwa komunitas pemulung, bukan hanya sebagai cerita tentang kemiskinan struktural di kawasan Tamangapa kota Makassar, akan tetapi juga sebagai cermin bagi kita semua bahwa kemuliaan tidak selalu tinggal di rumah megah; kadang ia bersemayam di gubuk kecil yang dindingnya terbuat dari seng bekas seperti rumah ibu Nurlia Lipza dipenuhi tambalan-tambalan sent dan teripleks bekas tetapi hidup dengan penuh kebahagiaan bersama anak-anaknya. Di sanalah ia memulai harinya mengais sisa-sisa sampah yang dibuang orang, berharap menemukan rezeki di antara barang-barang tak terpakai dari sisa sampah. Lihat gambar di bawah ini, seperti inilah keadaan ibu Nurlia Lipza berjuang untuk hidup di tengah kota Makassar, tanpa rasa malu dan rikuh.
 
Karung besar tersampir di pundaknya. Tangannya cekatan memilah plastik, kardus, dan botol bekas. Sesekali ia tersenyum kecil ketika menemukan barang yang masih bernilai jual. Bagi sebagian orang, itu hanyalah sampah. Namun bagi Lipzia, itu adalah beras untuk anak-anaknya, uang sekolah, dan secercah harapan untuk hidup tanpa ada perasaan mengeluh kepada orang yang melihatnya. Nurlia Lipzia bukan tidak pernah lelah. Tubuhnya sering pegal, kakin ya lecet karena berjalan di atas tanah becek bercampur limbah. Tetapi yang lebih berat bukanlah bau menyengat atau panas terik matahari melainkan pandangan sebagian orang yang meremehkan profesinya.
“Pemulung itu hina,” pernah ia dengar seseorang berbisik.
Namun Lipzia menunduk, bukan karena malu, melainkan karena ia tahu, Allah tidak menilai manusia dari pekerjaannya, tetapi dari ketakwaannya. Ia teringat firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 105, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” Ayat itu sederhana, tetapi menjadi bahan bakar semangatnya setiap hari. Di sela-sela kesibukan mengais sampah, Lipzia tetap semangat menyempatkan diri untuk hadir mengikuti pengajian di kampung Kajang pemulung Tamangapa Kota Makassar, Ia duduk paling depan, menyimak dengan mata berbinar. Ketika ustaz berbicara tentang sabar dan tawakal, hatinya bergetar. Ia merasa ayat-ayat itu turun untuknya dan untuk para komunitas pemulung yang berjuang dalam mempertahankan hidup mereka. Pada sore hari setelah mengais sampah seharian, ia menghitung hasilnya dan cukup untuk membeli beras dan sedikit lauk. Namun ia tetap bersyukur. Sebagaimana Allah berfirma dalam Al Qur’an:
لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
Artinya "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
Anak-anaknya pernah bertanya, “Ibu, kenapa kita tidak kerja yang lain saja?” Lipzia tersenyum dan mengusap kepala mereka. “Nak, pekerjaan apa pun asal halal itu mulia. Yang penting kita tidak meminta-minta dan tidak mengambil yang bukan hak kita.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung martabat. Di tengah kerasnya kehidupan kota, Lipzia mengajarkan pada anak-anaknya tentang harga diri dan kejujuran. 
Hari demi hari berlalu. Panas, hujan, bahkan angin kencang tak menghentikan langkahnya. Ia percaya, bahwa setiap langkah kecilnya di atas tumpukan sampah adalah saksi perjuangan di hadapan Allah. Dan mungkin, di mata manusia ia hanya seorang pemulung, tetapi di sisi-Nya ia adalah pejuang keluarga. Kisah Nurlia Lipzia bukan sekedar cerita tentang kemiskinan. Ia adalah potret keteguhan, tentang bagaimana seseorang tetap menjaga iman dan martabat di tengah keterbatasan. Dari tangan yang kotor dipenuhi sampah, lahir doa-doa yang bersih dan tulus.
Semoga kisah Ibu Nurlia Lipza ini menjadi cermin bagi setiap jiwa yang membacanya. Bahwa hidup sejatinya bukan tentang harta yang melimpah, pangkat yang tinggi, atau jabatan yang terhormat. Hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapinya dengan kesabaran, ketenangan, dan hati yang lapang dalam menerima setiap ketentuan-Nya. Dari perjuangan beliau, kita belajar bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari keteguhan hati dalam menjalani amanah sebagai hamba dan sebagai penanggung jawab keluarga. Keringat yang menetes siang dan malam, kerja keras yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab, serta doa yang tak pernah putus adalah bentuk ibadah yang mungkin tak terlihat manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Semoga kita mampu mengambil hikmah, menumbuhkan rasa syukur, dan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, lebih sabar, dan lebih percaya bahwa di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan kebaikan yang tak terduga.
Wallahu a'lam bishawab Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

Catatan: Tulisan ini merupakan keberlanjutan kisah dari seorang pemulung bernama Ibu Nurlia Lipza

Tidak ada komentar