Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 10 Sosiologia Ramadan 1447:Panggilan Umroh dari Kampung Pemulung Kajang Tamangapa Kota Makassar

Oleh      H.M.Ihsan Darwis Dosen Sosiologia Agama IAIN Parepare Pada sore hari, saya mendapat undangan untuk membawakan pengajian di Kampung...



Oleh      H.M.Ihsan Darwis

Dosen Sosiologia Agama IAIN Parepare

Pada sore hari, saya mendapat undangan untuk membawakan pengajian di Kampung Kajang Pemulung, Tamangapa, Kota Makassar. Jamaah yang hadir adalah para komunitas pemulung, orang-orang yang setiap hari mengais sampah untuk mendapatkan rezeki dari sisa-sisa kehidupan kota. Di antara mereka yang hadir dari seorang ibu sederhana bernama Ibu Nurlia Lipza.  Setelah pengajian selesai, kami membuka sesi dialog interaktif. Tiba-tiba Ibu Nurlia mengangkat tangan dan berkata dengan penuh harap,

“Pak Ustaz, doakan saya. Insya Allah tahun ini saya akan berangkat umroh.” Saya tersenyum dan bertanya dengan lembut, “Sudah berapa lama Ibu menabung uang untuk berangkat naik umroh?” Beliau menjawab dengan polos, “Saya tidak punya uang, Pak Ustaz.” Saya kembali bertanya, “Kalau tidak punya uang, bagaimana bisa berangkat umroh?” Dengan spontan beliau menjawab, “Satu sen pun uang saya tidak ada, Pak Ustaz. Tapi ada orang dermawan yang tiba-tiba mengajak saya umroh. Semua dokumen sudah selesai.” Saya terdiam. Hanya bisa mengucapkan, “Subhanallah.”

Di situlah saya kembali menyadari satu hal penting: haji dan umroh bukan semata perjalanan finansial, melainkan perjalanan panggilan. Jika Allah telah memanggil hamba-Nya, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalanginya. Oleh karena itu, dalam setiap manasik haji dan umroh, para pembimbing selalu memulai dengan kalimat talbiyah:

Ù„َبَّÙŠْÙƒَ اللّٰÙ‡ُÙ…َّ Ù„َبَّÙŠْÙƒَ، Ù„َبَّÙŠْÙƒَ Ù„َا Ø´َرِÙŠْÙƒَ Ù„َÙƒَ Ù„َبَّÙŠْÙƒَ، Ø¥ِÙ†َّ الْØ­َÙ…ْدَ ÙˆَالنِّعْÙ…َØ©َ Ù„َÙƒَ ÙˆَالْÙ…ُÙ„ْÙƒَ Ù„َا Ø´َرِÙŠْÙƒَ Ù„َÙƒَ

Artinya:

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.” Talbiyah bukan sekadar bacaan ritual, tetapi deklarasi spiritual bahwa manusia hanyalah tamu yang dipanggil.

Amalan di Balik Panggilan

Saya kemudian bertanya lagi kepada Ibu Nurlia, “Doa dan amalan apa yang Ibu lakukan hingga Allah memberi kemudahan seperti ini?” Beliau menjawab dengan suara bergetar, “Saya setiap malam bangun untuk salat tahajud, Pak Ustaz. Setelah itu saya berdoa memohon kepada Allah. Pada subuh hari saya ikut salat berjamaah di masjid kampung. Pemulung. Setelah selesai salat berjamaah di Masjid saya langsung pulang kerumah, dan terus membaca Al-Qur’an satu atau dua halaman. Setelah matahari terbit pada pagi hari Lalu saya salat sunnah dhuha sebelum berangkat memulung. Itu yang saya lakukan setiap hari.” Saya kembali mengucap, “Subhanallah.” Dari kampung pemulung itu, saya banyak belajar tentang kehidupan disekitar kita, bagaimana hidup yang sesungguhnya ketika kita tidak memiliki apa apa. Itulah sebabnya agama melarang keras saling merendahkan maupun saling meremehkan diantara sesama manusia karena seseorang memiliki kelebihan dan kekurangan kita harus saling menghargai dan mengingatkan diantara kita. Termasuk rezeki, ajal, dan jodoh adalah rahasia Allah. Manusia hanya berusaha dan berdoa. Selebihnya adalah wilayah kehendak-Nya. Al Qur’an menjelaskan 

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ù„َا ÙŠَسْØ®َرْ Ù‚َÙˆْÙ…ٌ Ù…ِّÙ† Ù‚َÙˆْÙ…ٍ عَسَÙ‰ٰ Ø£َÙ† ÙŠَÙƒُونُوا Ø®َÙŠْرًا Ù…ِّÙ†ْÙ‡ُÙ…ْ

Artinya:  "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) 

Kesalehan di Tengah Marginalitas

Kisah Ibu Nurlia ini sangat menarik jika dilihat dari perspektif sosiologi agama. Secara struktural, pemulung berada pada lapisan sosial bawah. Mereka sering dipandang sebagai kelompok marginal, minim akses ekonomi, pendidikan, dan fasilitas sosial. Namun dalam realitas religius, posisi sosial tidak selalu sejalan dengan kualitas spiritual. Dalam kajian sosiologi agama, terdapat fenomena yang disebut sebagai “religiusitas kompensatoris”, yaitu ketika kelompok marginal justru memiliki intensitas keberagamaan yang tinggi. Agama menjadi sumber makna, harapan, dan kekuatan psikologis dalam menghadapi keterbatasan sosial-ekonomi.

Bagi Ibu Nurlia, tahajud bukan sekedar ibadah sunnah, tetapi mekanisme transendensi cara melampaui keterbatasan dunia. Dhuha bukan sekadar ritual pagi, melainkan simbol optimisme sosial. Al-Qur’an yang dibaca sebelum memulung menjadi energi spiritual sebelum menghadapi kerasnya kehidupan. Di sinilah agama berfungsi sebagai: Sumber makna (meaning system) Agama memberi tafsir atas kemiskinan, sehingga kemiskinan tidak selalu dipahami sebagai kehinaan atau Sumber harapan (hope structure) Keyakinan bahwa Allah Maha Mengatur membuka ruang optimisme, bahkan ketika logika ekonomi tidak mendukung. Sumber mobilitas simbolik Secara sosial ia pemulung, tetapi secara spiritual ia tamu Allah. Umroh menjadi simbol bahwa kemuliaan tidak diukur oleh kelas sosial. Dalam perspektif ini, kisah Ibu Nurlia bukan hanya cerita tentang mukjizat rezeki, tetapi tentang bagaimana agama bekerja dalam struktur sosial. Ia menunjukkan bahwa stratifikasi sosial tidak selalu menentukan stratifikasi spiritual.

Ironisnya, banyak orang yang memiliki harta melimpah justru belum mendapatkan kesempatan ke Baitullah. Sementara seorang pemulung, tanpa tabungan sepeser-pun, dipanggil oleh Allah melalui tangan seorang dermawan yang memiliki kepeduliaan sosial khusunya kelas marjinal. 

Dari Kampung Kajang Pemulung, saya belajar satu pelajaran Penting: Allah tidak melihat status sosial, tetapi ketundukan hati. bahwa umroh bukan soal kemampuan membayar, tetapi soal kesiapan menjawab panggilan:

Ù„َبَّÙŠْÙƒَ اللّٰÙ‡ُÙ…َّ Ù„َبَّÙŠْÙƒَ

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kesalehan bisa tumbuh di mana saja dan bahkan di antara tumpukan sampah sekalipun.

Wallahu a'lam bishawab adalah ungkapan Arab yang berarti " Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya

 



Tidak ada komentar