Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Pendekatan Sosial Budaya dalam Memutus Mata Rantai Pandemi

Virus corana menjadi sebuah kata yang kini viral. Kata ini terus menghantui kita. Hampir setiap negara, tidak bisa dipungkiri s...




Virus corana menjadi sebuah kata yang kini viral. Kata ini terus menghantui kita. Hampir setiap negara, tidak bisa dipungkiri semua ketakutan. Betapa tidak, penyakit ini benar-benar tidak main-main menular begitu pesat. Hampir ratusan orang tertular setiap harinya di seluruh dunia.

Sangat miris memang kedengarannya. Kita perlu metode-metode tertentu dalam menanganinya termasuk di negara kita yang saat ini tengah ikut melawan virus.  Maka tidak heran ketika berbagai protokol sudah di siagakan dan disiarkan kepada masyarakat agar bisa memutus penyebaran virus ini, walaupun saat ini virus ini masih tetap saja belum memperlihatkan angka yang terinfeksi di Indonesia menurun. 

Penanganan virus ini tentu saja tidak hanya melibatkan aspek medis saja. Dibutuhkan juga pendekatan-pendekatan sosial budaya karena hal ini adalah hal yang tidak bisa di pisahkan karena wabah/penyakit bisa muncul karena budaya (cara hidup dan perilaku). Tidak jarang kebiasaan di tengah masyarakat menjadi penyebabnya. Contoh saja budaya makan bersama saat merayakan sesuatu penting  atau budaya pulang kampung ketika hari raya agama atau tradisi di daerah, ini tentu melibatkan banyak orang padahal virus ini dapat menularkan manusia dalam jarak dekat. Maka dari itu karena ini terkait dengan sosial budaya maka penanganan juga harus mempertimbangkan aspek sosial budaya. 

Begitu pula dengan kebijakan new normal yang akan menjadi budaya baru yang mau tidak mau harus kita terapkan. Protokol yang sejak awal sudah sama-sama kita lakukan selama ini akan menjadi pembiasaan baru. Pola kehidupan atau budaya baru ini kemudian banyak yang menyebutnya sebagai new normal.

Karena wabah terkait dengan sosial-budaya, maka penanganannya juga harus mempertimbangkan aspek sosial-budaya.  Oleh karena itu pilar-pilar sosial adalah orang yang lebih paham tentang situasi dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat maka akan lebih mudah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus corona diengah masyarakat. Hal tersebut dapat  dalam dilakukan oleh pilar-pilar sosial melalui kegiatan berikut ini: 

1.   Membuat sosialisasi pencegahan virus corona berbasis budaya lokal. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah mengingat, memahami dan mempraktekan cara pencengahannya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh penerapan nya adalah pilar-pilar sosial melakukan sosialisasi cara pencegahan virus corona melalui perilaku hidup bersih dan sehat dalam bentuk cerita, nyanyian, dan sebagainya dengan mengangkat kekhasan budaya daerah masing-masing sehingga masyarakat mudah memahami. 
2.   Pilar-pilar sosial melakukan himbauan kepada masyarakat menggunakan bahasa yang sederhana dan dilakukan sesuai dengan budaya masyarakat setempat.Contonya adalah pilar-pilar sosial menterjemahkan penerapan social distancing dan physical distancing kedalam bahasa daerah masing-masing sehingga langsung mengerti maksud dan tujuannya. 
3.   Dalam kampanye penanganan Covid-19 harus melibatkan pemimpin adat dan tokoh masyarakat lainnya. Pelibatan  pemimpin adat dan tokoh masyarakat ini bertujuan agar masyarakat lebih mendengar himbauan yang berasal dari petinggi mereka sendiri sehingga lebih membawa dampak yang cukup signifikan.
4.   Apabila memungkinkan, pilar-pilar sosial dapat menstimulus lahirnya aturan adat atau aturan desa yang bertujuan mensukseskan penanganan dan pencegahan Covid-19. Hal ini dikarenakan aturan adat dan desa dirasakan lebih dekat dimasyarakat. 
5.   Mengingat bahwa pandemi melumpuhkan sektor ekonomi, maka pilar-pilar sosial perlu menstimulus masyarakat yang mampu untuk berbagi kepada masayarakat yang tidak mampu, sehingga masyarakat yang tidak mampu tidak perlu bekerja dan tetap berada dirumah selama wabah corona,


Tidak ada komentar