Virus corana menjadi sebuah kata yang kini viral. Kata ini terus menghantui kita. Hampir setiap negara, tidak bisa dipungkiri s...
Virus corana
menjadi sebuah kata yang kini viral. Kata ini terus menghantui kita. Hampir setiap
negara, tidak bisa dipungkiri semua ketakutan. Betapa tidak, penyakit ini benar-benar
tidak main-main menular begitu pesat. Hampir ratusan orang tertular setiap
harinya di seluruh dunia.
Sangat miris
memang kedengarannya. Kita perlu metode-metode tertentu dalam menanganinya termasuk
di negara kita yang saat ini tengah ikut melawan virus. Maka tidak heran ketika berbagai protokol
sudah di siagakan dan disiarkan kepada masyarakat agar bisa memutus penyebaran
virus ini, walaupun saat ini virus ini masih tetap saja belum memperlihatkan
angka yang terinfeksi di Indonesia menurun.
Penanganan
virus ini tentu saja tidak hanya melibatkan aspek medis saja. Dibutuhkan juga
pendekatan-pendekatan sosial budaya karena hal ini adalah hal yang tidak bisa
di pisahkan karena wabah/penyakit bisa muncul karena budaya (cara hidup dan
perilaku). Tidak jarang kebiasaan di tengah masyarakat menjadi penyebabnya. Contoh
saja budaya makan bersama saat merayakan sesuatu penting atau budaya pulang kampung ketika hari raya
agama atau tradisi di daerah, ini tentu melibatkan banyak orang padahal virus
ini dapat menularkan manusia dalam jarak dekat. Maka dari itu karena ini
terkait dengan sosial budaya maka penanganan juga harus mempertimbangkan aspek
sosial budaya.
Begitu pula
dengan kebijakan new normal yang akan menjadi budaya baru yang mau tidak mau
harus kita terapkan. Protokol yang sejak awal sudah sama-sama kita lakukan
selama ini akan menjadi pembiasaan baru. Pola kehidupan atau budaya baru ini
kemudian banyak yang menyebutnya sebagai new normal.
Karena
wabah terkait dengan sosial-budaya, maka penanganannya juga harus
mempertimbangkan aspek sosial-budaya. Oleh karena itu pilar-pilar sosial
adalah orang yang lebih paham tentang situasi dan kondisi sosial budaya
masyarakat setempat maka akan lebih mudah untuk memutuskan mata rantai
penyebaran virus corona diengah masyarakat. Hal tersebut dapat dalam
dilakukan oleh pilar-pilar sosial melalui kegiatan berikut ini:
1. Membuat sosialisasi pencegahan virus corona berbasis budaya
lokal. Hal ini bertujuan agar masyarakat mudah mengingat, memahami dan
mempraktekan cara pencengahannya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh penerapan
nya adalah pilar-pilar sosial melakukan sosialisasi cara pencegahan virus
corona melalui perilaku hidup bersih dan sehat dalam bentuk cerita, nyanyian,
dan sebagainya dengan mengangkat kekhasan budaya daerah masing-masing sehingga
masyarakat mudah memahami.
2. Pilar-pilar sosial melakukan himbauan kepada masyarakat
menggunakan bahasa yang sederhana dan dilakukan sesuai dengan budaya masyarakat
setempat.Contonya adalah pilar-pilar sosial menterjemahkan penerapan social
distancing dan physical distancing kedalam bahasa
daerah masing-masing sehingga langsung mengerti maksud dan tujuannya.
3. Dalam kampanye penanganan Covid-19 harus melibatkan
pemimpin adat dan tokoh masyarakat lainnya. Pelibatan pemimpin adat
dan tokoh masyarakat ini bertujuan agar masyarakat lebih mendengar himbauan
yang berasal dari petinggi mereka sendiri sehingga lebih membawa dampak yang
cukup signifikan.
4. Apabila memungkinkan, pilar-pilar sosial dapat menstimulus
lahirnya aturan adat atau aturan desa yang bertujuan mensukseskan penanganan
dan pencegahan Covid-19. Hal ini dikarenakan aturan adat dan desa
dirasakan lebih dekat dimasyarakat.
5. Mengingat bahwa pandemi melumpuhkan sektor ekonomi, maka
pilar-pilar sosial perlu menstimulus masyarakat yang mampu untuk berbagi kepada
masayarakat yang tidak mampu, sehingga masyarakat yang tidak mampu tidak perlu
bekerja dan tetap berada dirumah selama wabah corona,
Tidak ada komentar