Tidak dapat dipungkiri semenjak adanya pandemi covid-19 yang menjadi pandemi global banyak sektor yang terpukul oleh pandemi ini mulai d...
Tidak dapat dipungkiri semenjak adanya pandemi covid-19 yang menjadi pandemi global banyak sektor yang terpukul oleh pandemi ini mulai dari sektor pendidikan, ekonomi, politik bahkan sosial budaya. Kita benar-benar dihadapkan pada situasi yang serba berubah.
Perubahan sosial berkaitan erat dengan perubahan kebudayaan dan seringkali perubahan sosial berkaitan pada perubahan budaya. Ini adalah sebuah gejala yang kita dapat amati di masa pandemi. Berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat turut memengaruhi perubahan sosial budaya masyarakat. Dinamika pandemi telah mengharuskan adanya transformasi sosial budaya sebagai jalan keluar untuk lebih berkembang dan lebih baik dari sebelumnya terlebih setelah menghadapi masa psbb menuju ke new normal.
Di masa new normal ini, kita telah melakukan banyak aktivitas melalui perangkat teknologi dan jaringan Internet. Masyarakat mulai dari desa sampai kota hampir sebagian besar memanfaatkan teknologi. Kita sekolah, kuliah, meeting, dan silahturahmi secara online melalui banyak ragam aplikasi atau melalui perantaraan dunia maya.
Di sini kita bisa mengamati bahwa segala sesuatu dirancang sedemikian rupa untuk memutus rantai penyebaran virus dengan kegiatan-kegiatan online dengan memanfaatkan teknologi di era revolusi industri 4.0. Hal ini tentunya memperjelas adanya perubahan sosial budaya pada masyarakat dengan minimnya pertemuan langsung secara tatap muka dan meningkatnya penggunaan teknologi sebagai sarana budaya baru yang dianggap resilience menghadapi wabah ini.
Menurut Prof. Irwan Abdullah, Guru Besar Anthropologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM, New Normal paling tidak menyangkut dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, New Normal sebagai pernyataan kebudayaan, artinya adanya Covid-19 ini menghadirkan sebuah pertanyaan besar tentang seberapa kuat kebudayaan Indonesia. Bagaimana nantinya di saat memasuki era New Normal, apakah kebudayaan kita cukup elastis, apakah kebudayaan kita punya resilience cukup kuat sehingga bisa mengiringi atau mendampingi masyarakat masuk era New Normal? Kedua, New Normal dinilai sebagai preseden kebudayaan. Melalui Covid-19 ini sesungguhnya menjadi sebuah momentum historis karena banyak pihak diajarkan pada sesuatu yang baru.
Dengan demikian, masa covid-19 menuju new normal ini telah
mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Sangat jelas bahwa telah terjadi
perubahan secara signifikan terhadap pola-pola lama kehidupan kita yang selama
ini telah tertanam dengan amat kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Dipresentasikan pada webinar internasional kerjasama Prodi SA dan JI FUAD IAIN Parepare
Tidak ada komentar