Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Spritualitas sebagai Tameng Covid-19 di Bulan Suci Ramadhan.

Nisar, Mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Parepare Waktu yang berlalu cukup panjang, tidak terasa akan berputar kembali, hari demi hari, ...





Nisar, Mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Parepare

Waktu yang berlalu cukup panjang, tidak terasa akan berputar kembali, hari demi hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, waktu ini lah yang kita rasakan saat ini. Kehadiran bulan suci ramadhan ditengah-tengah wabah covid 19 tidak menyurutkan semangat bagi umat Islam untuk menjalankan perintah Rabb-Nya. Kepanikan yang selalu menghantui, kini mulai terurai secara perlahan.

Musim tiada tentu tidak menjadi penghalang bagi orang mempunyai keyakinan kuat terhadap fenomena yang melanda kita saat ini. Ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan adalah sebuah jaminan spiritual bahwa kita akan baik-baik saja. Tak ada satupun makhluk yang mengganggu dan menggoda bagi orang-orang yang mempunyai keiman yang kokoh terhadap Tuhan-Nya. Seperti yang telah difirmankan Allah Swt dalam Q.S An-Nas ayat 1 dan 4 yang artinya "Aku berlindung kepada Tuhan-Nya manusia" dan "Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi".

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan telah memberikan jaminan perlindungan dari segala gangguan dan godaan setan yang terkutuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dibulan suci ramadhan ini manusia dipengaruhi oleh nafsu setan tetapi bukan setan.  Hal yang dimaksudkan adalah orang-orang yang tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri, inilah yang dikatakan nafsu setan.

Lapar dan haus setiap tahun kita jumpai disetiap bulan suci Ramadhan. Ini semua adalah sebuah tantangan yang sangat berat yang kita hadapi saat ini. Tidak seperti hari-hari biasanya. Bebas makan dan minum apa saja yang kita mau, dan juga kondisi cuaca yang tidak bersahabat tiba-tiba panas dan hujan disertai wabah yang melanda manusia yaitu virus corona atau yang sering dikenal covid 19.

Dalam menghadapi cobaan ini, manusia perlu memperdalam Epistimologi keagamaan  baik dikaji secara rasional maupun supra-rasional. Hal ini semakin meneguhkan bahwa ilmu cara berpikir supra-rasional bersifat universal dan dapat bermanfaat bagi semua kalangan lintas bahasa, agama dan bangsa. Dalam pengkajian Epistimologi keagamaan ada 3 instrumen (alat) yang dipakai manusia untuk menggapai pengetahuan yaitu :

a). Indra : tujuannya menangkap realitas empiris.

b). Akal : untuk mengabstrasikan informasi yang ditangkap oleh indra.

c). Hati (irfan) : untuk menangkap pancaran pengetahuan dan sumbernya Tuhan yang bersifat abstrak, supra-rasional.

Ketika manusia sudah mengimplementasikan instrumen pengetahuan tersebu. Maka output dari epistimologi keagamaan adalah menimbulkan empat konsep yaitu :

1). Sabar : kesabaran seseorang diuji oleh Tuhan agar kiranya. Apakah manusia ini termasuk makhluk yang bertakwa atau tidak.

2). Ikhtiar : teruslah berupaya dan berbuat tanpa harus mengendorkan keyakinan.

3). Tawakal : berserah diri kepada Allah dalam berbagai ujian dibulan suci ramadhan ditengah-tengah wabah covid 19.

4). Ikhlas : menerima dan ridha serta rela atas keputusan Allah dibulan suci ramadhan memperlihatkan kepada manusia wabah covid 19, bahwa ini semua adalah bahan ujian dalam menentukan keiman. Dan dibalik semua rencana Tuhan pasti ada Hikmahnya.

Dari empat konsep ini kita bisa bercermin diri bahwa apa yang selama ini kita lakukan adalah perbuatan salah atau benar. Konsep ini juga sangat mudah di ingat dalam kehidupan keseharianan kita dengan sebutan SITI ( Sabar , Ikhtiar, Tawakal, Ikhlas ). Jika manusia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Niscaya Allah akan selalu berada sisinya dan melindunginya.

#ngebuburitbarengbersamacovid19#

Tidak ada komentar