Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Ramadhan, Pandemi dan Kesadaran Masyarakat Kita

  Wahyuni, Mahasiswi Sosiologi Agama IAIN Parepare    Di dalam kehidupan manusia akan selalu kita temui   masalah-maslaah y...


 



Wahyuni, Mahasiswi Sosiologi Agama IAIN Parepare
  
Di dalam kehidupan manusia akan selalu kita temui  masalah-maslaah yang terjadi, bahkan pada realitanya  masalah- masalah akan selalu datang dan tidak ada putus-putusnya. Seperti yang terjadi sekarang ini, di seluruh dunia telah di gemparkan dengan adanya satu wabah penyakit yang memberi kepanikan dan mengguncang kehidupan masyarakat. Pandemi Corona (Covid-19), siapa yang tidak mengetahui nama ini, virus yang di identitaskan dengan nama covid-19, salah satu jenis virus  yang membuat seluruh dunia gempar dengan kepanikan dan rasa ketakutan layaknya monster kecil yang memporak-porandakan kehidupan masyarakat, wabah yang awalmulanya hanya terdapat di negara wuhan cina kini telah mamasuki sebagian  negara di dunia.   

Bagaimana tidak virus ini bukan monster, secaral langsung  memberi kepanikan, tekanan, ketakutan pada masyarakat, seakan-akan dunia akan hancur karena kehadirannya yang merasuki bumi bahkan virus ini telah menjadi konsumsi publik dalam kehidupan sehari-hari. Tak tanggung-tanggung virus ini telah menyebar ke jutaan orang bahkan mencapai ribuan orang. wabah ini telah memasuki bulan Ramadhan dan belum terselesaikan juga bagaimana mungkin umat islam menjalani hari-hari Ramadhan seperti biasanya.
 
Covid-19 penyebarannya begitu cepat, agar menanggulangi dan menghentikan penularan wabah ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan tertentu dalam memberikan solusi berupa katentuan yang telah disepakati bersama yaitu physical distancing, social distancing, Lockdown dan bahkan PSBB (Pembatasan Sosioal Berskala Besar) di indonesia. Dilansir dari okezone.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menekan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB dalam rangka percepatan penanganan coronavirus disease (Covid-19) pada 31 Maret 2020 lalu. Segala aktivitas kerumunan, perkumpulan di tiadakan. Dengan di berlakukannya kebijakan ini secara langsung mampu membentuk kesadaran dalam diri masyarakat melalui kebijakan tertentu.   

Ramadhan, bulan yang hadir sekali setahun menjadi bulan yang dinanti-nanti umat Islam diseluruh dunia, menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, Ramadan yang penuh kebahagiaan siapa sangka kini telah menjadi Ramadan yang berbeda untuk pertama kalinya.

Adanya  kebijakan pemerintah beberapa aktivitas keagamaan di bulan Ramadan lumpuh, di antaranya Iftar yaitu salah satu ibadah di bulan Ramadan dan sering dilakukan oleh sebuah komunitas, dan orang-orang berkumpul untuk berbuka puasa bersama-sama untuk saat ini tidak dilakukan, larangan mudik, bahkan shalat di masjidpun ditiadakan. selain shalat lima waktu dan shalat jumat shalat tarawih juga ditiadakan. Salah satu kasus yang terjadi disulawesi selatan desa Bittoeng 3 Kecamatan Duampanua Kabupaten pinrang, shalat jumat dan shalat tarawih di masjid tidak dilaksanakan, berhubung dengan himbauan dari bupati pinrang H.Andi Irwan Hamid S.Sos. Bahkan himbauan ini di berlakukan di tingkat nasional guna menghentikan penularan covid-19. Ramdhan juga sehenarnya memberi pendapatan dalam bidang ekonomi sebagaimana dapat dilihat banyaknya pedagang-pedagang yang melakukan penjualan disaat ramdhan namun adanya covid-19 ini pedagang dipasar-pasarpun dibatasi.

Ramadhan, bulan yang hadir sekali setahun menjadi bulan yang dinanti-nanti umat Islam di seluruh dunia, menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, Ramadan yang penuh kebahagiaan siapa sangka kini telah menjadi Ramadan yang berbeda untuk pertama kalinya.

Hadirnya wabah ini menjadi salah satu masalah yang memengaruhi segala aspek kehidupan, menjadi fenomena yang memilukan hati bagi  seluruh umat Islam di dunia, nuansa  Ramadhan yang memberi kebahagiaan tersendiri menjadi duka dan kekecewaan. Namun di satu sisi Peristiwa ini secara langsung mampu membentuk kesadaran dalam diri masyarakat  masyarakat dapat merenungkan, dapat sadar tentang kesadaran itu sendiri melalui gejala alam.  Kesadaran dapat terbentuk dari pengalaman yang dilalui masyarakat hadirnya virus ini masyarakat mampu memahami semua yang terjadi di lingkungan dan kehidupannya.

Mengenai konsep kesadaran hal ini dapat dianalisis Dalam pendekatan fenomenologi Edmund husserl. Bagi Husserl, kesadaran ini, kesadaran tentang sesuatu, “consciousness of something”. Jadi ada dua aspek “kesadaran” yang saling mengisi, yakni yang pertama proses sadar itu sendiri, “the process of being conscious” (the cogito), yang wujudnya bisa beberapa macam (misalnya mengingat, melihat, menilai), dan yang ke dua yang menjadi objek dari kesadaran tersebut. Dengan mengingat, melihat, dan menilai akan membentuk kesadaran, manusia dalam memandang suatu gejala atau peristiwa akan memberi pengalaman dari pengalaman tersebut akan membentuk kesadaran. 

Covid-19 merupakan gejala atau peristiwa  yang hadir di ruang lingkup kehidupan masyarakat memberikan berbagai dampak dalam segala aspek kehidupan, terjadinya kematian, kemacetan perekonomian, budaya, bahkan mempengaruhi aktivitas keagamaan hal ini menjadi suatu fenomena yang akan diingat, dilihat, dan dinilai bagi manusia dan menjadi pengalaman yang bermakna sehingga membentuk kesadaran, betapa pentingnya kebersihan, dan betapa kuasanya Tuhan atas segala kehendaknya. Fenomenologi memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran.

Kesadaran pada dasarnya selalu mengenai sesuatu. Sesuatu itu saat ini adalah pandemi ini sekaligus menjadi objek dari kesadaran yang muncul dan hadir dihadapan manusia ditengah-tengah pelaksanaan Ramadhan bagi umat Islam. Ramadhan yang di dalamnya diisi dengan aktivitas keagamaan, bahkan silaturhami tidak lagi  berjalan dengan baik karena pembatasan-pembatasan yang di berlakukan akibat wabah ini.   
          
Pada realitanya inilah yang terjadi, covid-19 kini merasuki dunia seperti  monster  yang hadir dan menjadi ancaman bagi  makhluk bernyawa yang bernama manusia. Datangnya pandemi ini memberi pengalaman yang membentuk kesadaran bahwa terlepas dari ini semua adalah cara Tuhan menguji dan memperlihatkan kekuasaannya semua bisa saja terjadi atas kehendaknya. Memberi kesadaran bahwa hidup sehat itu penting. Ikhtiar dan berdoa yang perlu  kita lakukan  saat ini agar wabah ini cepat berlalu dan aktivitas biasa bisa  dilakukan kembali.

#Prayfromhome

Tidak ada komentar