Parepare, 22 Juli 2026 – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare kembali menunjukkan komitmennya dalam menjawab persoalan lingkungan ...
Parepare, 22 Juli 2026 – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare kembali menunjukkan komitmennya dalam menjawab persoalan lingkungan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Lokakarya Rekonstruksi Sistem Pengurangan Timbulan Sampah Berbasis Masyarakat di Kawasan Pesisir Kelurahan Cempae, Kota Parepare. Kegiatan yang berlangsung di Lantai 5 Perpustakaan IAIN Parepare ini berhasil mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat dalam satu forum kolaboratif untuk merumuskan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai oleh Muh. Ahsan, M.Si. dengan anggota A. Nurul Mutmainnah, M.Si., selaku Ketua Program Studi Sosiologi Agama IAIN Parepare, dan S. Dinar Abdullah. Turut berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut tiga mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, yaitu Tiara, Alya, dan Iqrar, yang terlibat dalam persiapan, pendampingan peserta, dokumentasi, hingga fasilitasi jalannya diskusi selama kegiatan berlangsung.
Forum ini dihadiri oleh berbagai unsur strategis, di antaranya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Parepare yang diwakili oleh Waty Rusman Saleh, S.Kel. dan Syarifuddin, CSR Pertamina yang diwakili oleh Firman, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Parepare, Pemerintah Kecamatan Wattang Soreang, Pemerintah Kelurahan Wattang Soreang, Pemerintah Kelurahan Lakessi, pengurus Bank Sampah Lakessi, para Ketua RT/RW Kelurahan Wattang Soreang, Ketua Laboratorium SDGs IAIN Parepare Dr. Adnan Achiruddin, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang diwakili oleh Dr. Muh. Ismail, M.Sos.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor IAIN Parepare, yang menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa keberhasilan pengurangan timbulan sampah tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah, tetapi memerlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat.
"Pengelolaan sampah membutuhkan dukungan seluruh stakeholder dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap orang memiliki tanggung jawab dalam menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah yang baik. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ujar Rektor IAIN Parepare.
Dalam pemaparannya, Tim PKM menyampaikan hasil observasi lapangan yang menunjukkan bahwa persoalan utama di kawasan pesisir Cempae bukan hanya tingginya timbulan sampah, tetapi juga belum optimalnya sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga proses pengangkutan. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar diskusi bersama seluruh peserta untuk menyusun model rekonstruksi sistem pengurangan timbulan sampah berbasis masyarakat.
Berbagai masukan strategis disampaikan oleh para peserta. CSR Pertamina menekankan pentingnya social mapping sebagai dasar penyusunan program serta menginformasikan rencana pengadaan mesin pencacah sampah pada tahun ini. Pengurus Bank Sampah Lakessi menjelaskan perkembangan bank sampah yang telah beroperasi beberapa bulan terakhir dan rencana digitalisasi sistem tabungan sampah. Mereka juga mengingatkan bahwa penggunaan botol plastik sebagai pelampung budidaya rumput laut masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik di kawasan pesisir, di samping kiriman sampah dari wilayah lain melalui arus laut.
Dari sisi kebijakan, Bappeda Kota Parepare menyampaikan target Cempae Bebas Sampah Tahun 2029, yang didukung melalui penguatan kelembagaan masyarakat dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Berbagai program seperti aksi bersih pesisir bulanan, pemasangan jaring penahan sampah, dan monitoring bersama DLH telah berjalan sebagai bagian dari upaya mencapai target tersebut.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menegaskan bahwa permasalahan utama terletak pada sistem pengelolaan sampah yang belum optimal. DLH memperkenalkan pendekatan New Reuse Framework (NRF) yang menempatkan TPS 3R dan bank sampah sebagai bagian dari sistem pengelolaan yang terintegrasi dengan dukungan aktif masyarakat dan pemerintah.
Perwakilan Kecamatan Wattang Soreang berharap IAIN Parepare dapat terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan dan menjadikan Kelurahan Wattang Soreang sebagai wilayah binaan dalam pengembangan model pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di sisi lain, perwakilan RT menyampaikan bahwa sekitar 90 persen masyarakat di RW 4 telah memiliki kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah, meskipun masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas tempat sampah dan belum rutinnya pengangkutan sampah.
Melalui proses FGD dan lokakarya, forum berhasil merumuskan tujuh rekomendasi utama, yaitu pengembangan Material Recovery Facility (MRF) sebagai bagian dari strategi pengurangan timbulan sampah, penguatan edukasi pemilahan sampah dari sumber, penambahan sarana penampungan sampah, penataan titik kumpul sampah di Kelurahan Wattang Soreang, penguatan sinergi antara Bank Sampah Lakessi dan Bank Sampah Lakukkang, optimalisasi fungsi TPS 3R, serta penguatan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat.
Ketua Tim PKM, Muh. Ahsan, M.Si., menyampaikan bahwa hasil FGD dan lokakarya ini akan menjadi dasar penyusunan model rekonstruksi sistem pengurangan timbulan sampah berbasis masyarakat yang akan diimplementasikan melalui pendampingan berkelanjutan.
Keikutsertaan A. Nurul Mutmainnah, M.Si. sebagai Ketua Program Studi Sosiologi Agama, bersama mahasiswa Tiara, Alya, dan Iqrar, mencerminkan komitmen Program Studi Sosiologi Agama IAIN Parepare dalam mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi melalui pengabdian yang berbasis riset, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sinergi lintas sektor yang berhasil dibangun dalam kegiatan ini, diharapkan lahir model pengelolaan sampah pesisir yang tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menjadi contoh praktik baik bagi wilayah pesisir lainnya di Kota Parepare.

.jpeg)
Tidak ada komentar