Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 25 Sosiologia Ramadan: Dari Ucapan Ke tindakan: True Promise Sebagai Fondasi Etika Sosial

Oleh           H.M.Ihsan Darwis Dosen        Sosiologi Agama IAIN Parepare Janji-janji menjadi sesuatu yang mudah diucapkan, akan tetapi sul...

Oleh           H.M.Ihsan Darwis

Dosen        Sosiologi Agama IAIN Parepare

Janji-janji menjadi sesuatu yang mudah diucapkan, akan tetapi sulit diwujudkan dalam bentuk nyata. Di sinilah konsep “true promise” atau janji yang sungguh-sungguh menjadi sangat penting sebagai fondasi etika sosial dalam kehidupan manusia. Dalam fenomena sosial menunjukkan bahwa krisis kepercayaan sering kali berawal dari janji yang tidak ditepati dalam lingkungan masyarakat, Misalnya; jarang kita mendengar seseorang berjanji akan membantu tetangganya yang sedang mengalami kesulitan, akan tetapi ketika saatnya tiba, janji itu hanya tinggal kata-kata. Hal yang sama juga sering terjadi dalam berbagai sektor kehidupan sosial, baik dalam dunia pekerjaan, lembaga pendidikan maupun dalam hubungan keluarga sendiri. Sebagai contoh sederhana misalnya: dalam kehidupan bermasyarakat sering muncul fenomena sosial, ketika seseorang berjanji akan ikut bergotong royong membersihkan lingkungan atau memperbaiki fasilitas umum di kampung halaman. Dan pada saat rapat berlangsung banyak yang menyatakan kesediaannya untuk hadir dan membantu. Namun pada hari pelaksanaan kegiatan tersebut, hanya segelintir orang yang benar-benar datang. Fenomena seperti ini menunjukkan adanya jarak antara ucapan dan tindakan dan ini biasanya disebut “ janji palsu“. Adapun contoh yang lain dapat dilihat dalam dunia kepemimpinan sosial atau tokoh masyarakat yang ketika berada dalam forum publik menyampaikan berbagai janji untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi setelah memperoleh posisi atau kekuasaan, sebagian dari janji tersebut tidak diwujudkan secara nyata. Akibatnya masyarakat mengalami kekecewaan secara perlahan mulai kehilangan kepercayaan (trust) kepada pemimpinnya. Dan kepercayaan sosial tersebut mulai terkikis, akibat hubungan antara pemimpin dan masyarakat menjadi rapuh .

Dari berbagai fenomena tersebut, sebenarnya bukan hanya persoalan individu, akan tetapi juga persoalan etika,moral sosial yang terabaikan karna tidak adanya komitmen untuk melakasanakannya, sehingga nilai kejujuran dan tanggung jawab perlahan akan memudar. Pada hal dalam kehidupan sosial masyarakat, kepercayaan adalah modal utama untuk menjaga harmoni dan keberlangsungan hubungan antar manusia. Dalam perspektif nilai-nilai moral dan agama, menepati janji merupakan bagian dari integritas manusia. Janji bukan sekedar kata-kata, melainkan sebuah amanah yang mengikat seseorang secara moral. Ketika seseorang mampu menjaga janji yang diucapkannya, maka ia telah menunjukkan bahwa ucapannya memiliki nilai kebenaran. Sebaliknya, ketika janji sering diingkari, maka ucapan akan kehilangan makna dan kepercayaan sosial akan melemah. Oleh karena itu, membangun budaya “True Promise” dalam kehidupan masyarakat berarti menanamkan kesadaran sosial sebagai setiap ucapan harus disertai dengan tanggung jawab untuk dapat mewujudkannya dan apabila tidak dipenuhi janji tersebut, dalam hal ini disebut “Blind Date”. Dari hal-hal yang kecil seperti menepati waktu, memenuhi janji kepada keluarga, hingga komitmen dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Jika setiap individu berusaha menyelaraskan antara ucapan dan tindakan, maka kepercayaan sosial akan tumbuh kembali dan kehidupan masyarakat menjadi lebih harmonis. 

Konsep: “true Promise” dalam kehidupan sosial masyarakat sebenarnya berkaitan erat dengan bagaimana manusia membangun kepercayaan sosial (social trust). Kepercayaan adalah unsur penting yang menjaga hubungan antar manusia tetap harmonis. Tanpa kepercayaan, hubungan sosial akan dipenuhi kecurigaan, konflik, dan ketidakpedulian dan lain sebagainya. Oleh karena itu, setiap ucapan yang disampaikan dalam kehidupan sosial seharusnya tidak hanya menjadi simbol komunikasi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan fenomena sosial yang menunjukkan bahwa masyarakat sedang menghadapi krisis komitmen. Misalnya dalam contoh sederhana, katakan di lingkungan kerja sendiri, ada seseorang yang berjanji untuk menyelesaikan tugas bersama atau membantu rekan kerjanya. Namun ketika waktu pelaksanaan tiba, ia justru menghindar atau mencari alasan untuk tidak terlibat. Hal kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, akan tetapi jika terus terjadi, maka akan menimbulkan rasa tidak percaya di antara sesama anggota kelompok. Fenomena lain dapat kita lihat dalam kehidupan keluarga. Tidak jarang orang tua berjanji kepada anak-anaknya untuk meluangkan waktu bersama, menemani belajar, atau menghadiri kegiatan sekolah. Akan tetapi karena kesibukan atau alasan lainnya, janji tersebut sering kali tidak terwujud, maka janji tetap janji dan janji itu adalah utang bagi anak-anak. Dalam hal tersebut dapat menimbulkan kekecewaan yang perlahan-lahan mengurangi rasa percaya kepada orang tua. Dari contoh sederhana tersebut terlihat bahwa “true promise” tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sosial yang luas, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga sendiri. 

Dalam perspektif kehidupan sosial, true promise memiliki dampak yang sangat besar. Ketika seseorang dikenal sebagai pribadi yang selalu menepati janji, maka ia akan memperoleh kepercayaan atau trust dan penghormatan dari orang lain. Sebaliknya, jika seseorang sering mengingkari ucapan, maka perlahan-lahan masyarakat akan meragukan setiap perkataannya. Pada intinya: integritas seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara, akan tetapi dari seberapa konsisten ia mewujudkan apa yang diucapkannya. Oleh sebab itu, membangun budaya true promise dalam masyarakat bukan hanya tugas individu, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. Pendidikan dalam keluarga, nilai moral dalam masyarakat, serta ajaran agama memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan membawa konsekuensi moral. Jika masyarakat mampu menumbuhkan kembali budaya menepati janji, maka hubungan sosial akan menjadi lebih kuat, penuh kepercayaan, dan dilandasi oleh nilai etika yang luhur dari ucapan menuju tindakan adalah perjalanan moral yang harus ditempuh oleh setiap manusia. Ketika ucapan selaras dengan tindakan, maka manusia tidak hanya membangun kepercayaan orang lain, akan tetapi juga menjaga martabat dirinya sebagai makhluk sosial yang beretika. Di situlah true promise menjadi fondasi penting bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang jujur, adil dan saling menghargai dalam kehidupan sosial masyarakat dan akan berdiri di atas fondasi etika yang kokoh. Wallahu a‘lam bishawab. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.




Tidak ada komentar