Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 19 Sosiologia Ramadan 1447: Masjid Sebagai Ruang Pembelajaran Sosial

Oleh          H.M.Ihsan Darwis Dosen        Sosiologi agama IAIN Parepare Malam ke-19 bulan Ramadhan, saya mendapat kesempatan untuk menyamp...



Oleh          H.M.Ihsan Darwis

Dosen        Sosiologi agama IAIN Parepare

Malam ke-19 bulan Ramadhan, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan ceramah di sebuah masjid di BTP dan saya tidak menyebut nama masjidnya. Suasana masjid pada saat itu cukup ramai. Jamaah mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian ibadah malam Ramadan. Di antara jamaah tersebut, tampak pula beberapa anak-anak yang berlari dan bermain di dalam area masjid. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah. Namun bagi sebagian yang lain, kehadiran anak-anak justru dipandang sebagai tanda bahwa masjid masih hidup dan menjadi ruang sosial bagi generasi yang lebih muda.

Dalam situasi itulah muncul sebuah peristiwa yang cukup menarik jika dilihat dari sudut pandang Sosiologi Agama. Salah seorang pengurus masjid menegur anak-anak tersebut agar tidak bermain di dalam masjid. Kemudian teguran itu mungkin dimaksudkan untuk menjaga ketertiban dan kekhusyukan jamaah. Namun secara tiba-tiba, pengurus lain justru menegur balik pengurus yang menegur anak-anak tadi. Ia merasa bahwa cara menegur tersebut terlalu keras atau kurang bijaksana. Dari situlah terjadi percakapan yang mulai memanas di antara kedua pengurus masjid tadi. 

Perbedaan pandangan yang awalnya sederhana berubah menjadi mis-komunikasi. Masing-masing merasa memiliki cara pandang yang benar tentang bagaimana seharusnya menjaga ketertiban di dalam masjid. Ironisnya, pengurus yang lain mencoba menenangkan suasana dengan mengatakan, “Sudahlah, sudah ada ustaz di sini. Nanti kita bicarakan saja.” Kalimat sederhana ini sebenarnya menjadi penanda bahwa di dalam sebuah komunitas keagamaan pun tidak selalu berada dalam kondisi yang sepenuhnya harmonis. Ada kalanya muncul perbedaan persepsi, emosi, bahkan ketegangan kecil yang terjadi di antara pengurus. Dalam tinjaun sosiologi agama, Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang sosial tempat berbagai karakter, latar belakang, dan cara pandang bertemu. Pengurus masjid adalah manusia biasa yang membawa pengalaman, emosi, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dinamika seperti ini sering kali muncul dalam organisasi sosial keagamaan. Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa keberagamaan tidak selalu berjalan dalam bentuk harmoni yang sempurna dan kadang-kadang, di balik aktivitas keagamaan yang terlihat tertib dari luar, terdapat dinamika hubungan sosial yang memerlukan kedewasaan dalam mengelolanya. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, bahkan persoalan kecil dapat berkembang menjadi kesalahpahaman.

Dalam konteks kehidupan masjid, hal seperti ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama bagi para pengurus serta jamaah yang ada di dalam masjid. Masjid bukan hanya tempat untuk mengajarkan ibadah kepada jamaah, akan tetapi juga tempat untuk menumbuhkan akhlak sosial yang baik di antara mereka yang mengelolanya. Cara berbicara, cara menegur, dan cara menyelesaikan perbedaan pendapat menjadi bagian dari etika sosial yang sangat penting. Kehadiran anak-anak di masjid, misalnya, sebenarnya dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ketertiban perlu dijaga agar jamaah dapat beribadah dengan khusyuk. Namun di sisi lain, anak-anak yang datang ke masjid merupakan tanda bahwa generasi muda mulai mengenal ruang ibadah sejak dini. Jika mereka merasa diterima dan diperlakukan dengan bijak, maka masjid akan menjadi tempat yang akrab dalam ingatan mereka. Sebaliknya, jika mereka selalu dimarahi atau diusir, bukan tidak mungkin mereka akan merasa jauh dari masjid di kemudian hari.

Dalam tradisi Islam sendiri, sikap terhadap anak-anak di masjid sebenarnya telah dicontohkan dengan penuh kelembutan oleh Nabi Muhammad Saw. Terdapat beberapa riwayat, beliau tetap melanjutkan salat meskipun cucunya naik ke punggungnya ketika sujud. Keteladanan ini menunjukkan bahwa kehadiran anak-anak di sekitar aktivitas ibadah tidak selalu harus dipandang sebagai gangguan, tetapi dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika kehidupan umat. Dari peristiwa kecil di masjid pada malam ini, kita dapat belajar bersama bahwa pengelolaan masjid tidak hanya membutuhkan kemampuan administratif, tetapi juga kedewasaan sosial dan emosional. Pengurus masjid bukan hanya penjaga bangunan fisik, tetapi juga penjaga harmoni sosial di antara jamaah. Komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, serta kemampuan menahan emosi menjadi kunci penting agar masjid tetap menjadi ruang yang menenangkan bagi semua orang.

Fenomena sosial tersebut mengingatkan kita bahwa dalam komunitas keagamaan sekalipun, manusia tetap membawa sifat-sifat kemanusiaannya. Namun justru di situlah nilai-nilai agama diuji: apakah kita mampu mengelola perbedaan dengan bijak, menjaga lisan, dan memelihara persaudaraan. Jika setiap pengurus masjid mampu menjadikan peristiwa seperti ini sebagai bahan introspeksi, maka masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi sekolah sosial yang mengajarkan kesabaran, kebijaksanaan, dan kedewasaan dalam kehidupan bersama. Di sinilah pentingnya kedewasaan sosial dalam mengelola masjid. Pengurus masjid bukan sekedar pelaksana kegiatan keagamaan, tetapi juga figur yang menjadi contoh dalam menjaga etika sosial di tengah masyarakat dengan cara mereka menyelesaikan perbedaan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka menahan emosi akan menjadi pelajaran tersendiri bagi jamaah yang menyaksikannya termasuk saya sendiri sebagai pencermah turut hadir menyaksiskan perbedaan tersebut

Masjid pada dasarnya merupakan ruang pembelajaran sosial. Di dalamnya, masyarakat belajar tentang kebersamaan, kesabaran, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Jika konflik kecil dapat diselesaikan dengan cara yang bijaksana, maka jamaah akan melihat bahwa nilai-nilai agama benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa pengelolaan masjid memerlukan komunikasi yang terbuka di antara para pengurus. Perbedaan pendapat seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari dinamika organisasi. Intinya adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan dengan tenang, bukan dipertontonkan di hadapan jamaah dalam suasana emosi seperti kehadiran tadi saya sebelum naik mimbar untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Jika anak-anak dibimbing dengan cara yang baik, mereka akan tumbuh dengan rasa cinta terhadap masjid. Namun jika mereka selalu dimarahi atau diperlakukan dengan keras, bukan tidak mungkin mereka akan merasa takut atau enggan datang ke masjid di masa depan..

Dari sudut pandang sosiologi agama, keberlangsungan sebuah institusi keagamaan tidak hanya ditentukan oleh bangunan fisiknya, tetapi juga oleh kemampuan komunitas di dalamnya untuk menciptakan ruang yang ramah, inklusif, dan penuh keteladanan. Masjid yang hidup adalah masjid yang mampu menampung berbagai dinamika kehidupan masyarakat, termasuk kehadiran anak-anak dengan segala keceriaannya. Dari ruang masjid yang sederhana itulah masyarakat belajar bahwa nilai-nilai agama tidak hanya diucapkan dalam ceramah, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Pada akhirnya, masjid bukan sekedar tempat manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga tempat manusia belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam kehidupan bersama. Dan dari pengalaman kecil seperti inilah tadi kejadian yang saya saksikan sendiri dimasjid bahwa setiap dinamika sosial dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak dan semoga tidak terulang lagi ditempat yang berbeda. Mohon maaf !

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya



1 komentar

  1. Kisah yang Anda ceritakan itu sebenarnya sangat kaya jika dibaca melalui kacamata Sosiologi Agama, karena di dalamnya melon playground tersimpan dinamika sosial yang sering kali tidak terlihat di permukaan.

    BalasHapus