Oleh: Dr.H.M.Ihsan darwis,M.Si Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare Saya terinspirasi dengan sebuah kisah seorang pemuda dengan suara lantang...
Saya terinspirasi dengan sebuah kisah seorang pemuda dengan suara lantang dengan penuh keyakinan, mengakatan bahwa: “Aku ingin mengubah dunia.” Ia melihat kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan kerusakan moral di sekitarnya. Ia marah pada keadaan. Ia berjanji dalam hatinya, kelak ia akan menjadi tokoh besar, pemimpin besar, orang yang dikenang karena perubahan yang ia ciptakan. Namun dalam hidupnya tidak berjalan sesuai rencana, akan tetapi Ia mencoba berbagai usaha tapi gagal, kemudian Ia membangun komunitas juga bubar. Ia merintis gerakan ormas juga ditinggalkan teman-temannya. Ialu ia berfikir sejenak untuk mencoba lagi berusaha tanpa putus asa. Apa ia harus dilakukan? Mencoba berdagang untuk menggapai cita citanya juga gagal, kemudian mencalonkan diri dalam organisasi besar juga ia kalah. Orang-orang disekitarnya mulai berbisik,“Dia terlalu banyak mimpi.” “Dia tidak realistis.” “Dia gagal.” Lama-kelamaan ia lelah.Ia merasa dunia terlalu besar untuk diubah. Ia merasa dirinya terlalu kecil.
Pada suatu malam, dalam kesendirian, ia merenung. Ia bertanya pada dirinya sendiri: “Mengapa aku ingin mengubah dunia”, sementara aku belum mampu mengubah diriku sendiri?” Allah Swt berfirman dalam Al Qur’anul karim dalam surah Ar Ra’d ayat 11
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
Artinya: "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." Ayat ini menunjukkan korelasi antara takdir Allah dan usaha manusia, di mana manusia diberikan kemampuan untuk mengubah kondisinya melalui ikhtiar.
Pertanyaan yang mendasar menghantam jiwanya?
lalu Ia sadar, selama ini ia ingin menjadi orang besar sebelum menjadi baik. Ia ingin dipuji sebelum memperbaiki dirinya sendiri. Ia ingin hasil tanpa proses pembentukan karakter. Sejak malam itu, ia berhenti berbicara tentang mengubah dunia. Ia mulai berbicara tentang mengubah dirinya. Ia memperbaiki shalatnya. Ia menata emosinya. Ia belajar mendengar sebelum berbicara. Ia membangun disiplin kecil setiap hari. Ia membaca lebih banyak, mengeluh lebih sedikit. Perubahannya tidak viral.Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada headline berita. Namun yang terjadi adalah keluarganya mulai merasakan ketenangan hidup. Teman-temannya mulai menghargai nasihatnya. Anak-anak muda mulai datang untuk belajar darinya.
Hari demi hari bertambah hari!
Ia tidak pernah menjadi tokoh dunia. Namanya tidak tercatat dalam buku sejarah, akan tetapi
di kampung halamanya menjadi inspirasi bagi semua orang, puluhan anak-anak terhindar dari putus sekolah karena arahan dan bimbingannya. Anak-anak generasi merupakan pelanjut dari pemimpin dunia dan dari berbagai kalangan keluarga terselamatkan dari putus sekolah maupun dari kejahatan lainnya karena nasihatnya.
Pemuda menemukan arah hidup karena teladannya.
Suatu hari, seorang muridnya bertanya, “Wahai guru, apakah anda tidak kecewa karena dulu ingin mengubah dunia tetapi tidak berhasil?” Ia tersenyum dan menjawab, “Aku dulu ingin mengubah dunia. Sekarang aku hanya berusaha tidak merusaknya. Dan ternyata, ketika kita memperbaiki diri dan menolong orang-orang terdekat, dunia kecil kita berubah. Dan dunia besar sesungguhnya dibangun dari dunia-dunia kecil itu.
Kisah tersebut menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa seorang pemuda pernah merasa hidupnya hampa. Ia memiliki semangat, tetapi tidak memiliki arah. Ia ingin sukses, tetapi tidak tahu untuk apa ia sukses. Dalam kegelisahannya, ia mulai mencari figur yang bisa ia jadikan panutan. Pada suatu hari ia menemukan kisah keteladanan Muhammad. Ia membaca bagaimana Rasulullah tumbuh sebagai pemuda yang jujur (Al-Amin), menjaga amanah, menghormati orang tua, dan peduli terhadap kaum lemah. Keteladanan itu menyentuh hatinya. Ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar mengejar materi, tetapi membangun karakter dan akhlak yang baik. Ia mulai meneladani kejujuran dalam perkataan, disiplin dalam bekerja, dan kesabaran dalam menghadapi ujian. Perlahan-lahan, perubahan kecil itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih matang. Lingkungannya pun mulai melihat perbedaan: ia lebih tenang, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab. Dari keteladanan itulah ia menemukan arah hidup—bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang pencapaian dunia, tetapi tentang menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan agamanya.
Ia akhirnya mengerti
Dunia tidak berubah oleh satu orang besar. Dunia berubah oleh banyak orang yang memperbaiki dirinya masing-masing. Kegagalannya dahulu bukan akhir hidupnya. Itu adalah cara Tuhan mengajarinya bahwa perubahan besar dimulai dari hati yang kecil namun tulus. Dan mungkin… Orang yang membaca kisah ini juga pernah merasa gagal. Pernah merasa mimpinya terlalu tinggi dan hidupnya terlalu biasa.
Ingatlah:
Tidak semua orang ditakdirkan menjadi terkenal. Tetapi semua orang ditakdirkan bisa menjadi bermakna. Jika hari ini anda merasa gagal “mengubah dunia”, mulailah dengan mengubah satu kebiasaan, satu sikap, satu doa, satu kebaikan kecil. Karena dunia tidak menunggu pahlawan besar. Dunia menunggu orang-orang yang mau bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dan dari situlah perubahan yang sesungguhnya dimulai.
Wallahu A’lam Bisawab: Allah yang paling tahu kebenarannya
Catatan:
Kisah ini belum tuntas dan in syaa Allah akan dilanjutkan pada episode berikutnya Day 6 Ramadhan
Narasi ini disusun dari hasil bacaan dan pikiran penulis dan berbagai sumber Al Qur’an dsb
Tidak ada komentar