A.Nurul Mutmainnah, M.Si Hari ini, sebuah kisah sederhana yang saya baca di aplikasi Threads justru menghadirkan tamparan sosial yang tida...
A.Nurul Mutmainnah, M.Si
Hari ini, sebuah kisah sederhana yang saya baca di aplikasi Threads justru menghadirkan tamparan sosial yang tidak sederhana. Kisah itu dituturkan oleh seorang guru tentang muridnya, dan dimulai dengan kalimat yang terdengar biasa saja, “Ada satu murid saya, namanya Iwan.” Namun, dari kalimat pembuka yang tampak ringan tersebut, tersingkap realitas sosial yang jauh lebih dalam tentang stigma, harga diri, dan perjuangan yang kerap luput dari penilaian kita sehari-hari. Berikut ceritanya:
Ada satu murid saya, namanya Iwan. Anaknya sih biasa aja. Tapi baunya... Astaghfirullah.
Bukan bau badan. Tapi bau wangi yang overdosis.Setiap Iwan masuk kelas, radius 10 meter langsung kecium bau parfum murah yang nyegrak banget. Baunya campuran antara aroma melati, jeruk nipis, sama minyak nyong-nyong. Pokoknya baunya bikin pusing sampai ke ubun-ubun.
Kalau dia lewat, nyamuk aja mungkin pingsan. Saya sampai curiga, jangan-jangan dia mandi pakai pewangi laundry satu galon..
Pas materi Partikel Gas (Difusi), Iwan jadi contoh nyata. Saya bilang: "Difusi adalah pergerakan partikel dari konsentrasi tinggi ke rendah."
"Contohnya: Bau parfum Iwan."
"Dia duduk di pojok, tapi baunya sampai ke meja guru dalam 2 detik."Satu kelas ngakak.
"Iwan mah bukan Difusi Pak, tapi Polusi!" celetuk temannya.
"Wan, lo mau sekolah apa mau rukyah orang kesurupan? Wangi bener!"Iwan cuma nyengir. Tapi anehnya, dia gak tersinggung. Dia malah keluarin botol parfum kecil dari sakunya. Crut... crut... crut... Disemprot lagi ke baju seragamnya.
Saya lama-lama pusing juga. Hidung saya sensitif.
Saya tegur dia.
"Wan, udah dong."
"Simpan parfumnya."
"Kita jadi gak konsen nih, baunya tajem banget."Dia nunduk.
"Maaf Pak."Tapi pas jam istirahat, saya lihat dia semprot-semprot lagi di kamar mandi. Basah kuyup itu baju bagian ketiak sama punggungnya.
Saya batin: "Ini anak genit banget sih. Puber sih puber, tapi gak gini juga kali."
Puncaknya, saya sita botol parfumnya. Botol plastik kusam, isinya cairan kuning. Baunya minta ampun.
"Bapak sita sampai pulang sekolah!"
"Kamu ini mengganggu ketertiban udara di kelas."Iwan mukanya panik banget. Lebih panik daripada pas ketahuan nyontek.
"Pak, jangan Pak..."
"Balikin Pak..."Saya tegas.
"Gak. Ambil nanti sore."Dia duduk lemas. Gelisah sepanjang pelajaran.
Pulang sekolah, hujan deras. Saya nunggu reda di pos satpam depan.
Tiba-tiba ada truk sampah kecamatan lewat. Baunya busuk menyengat. Khas sampah basah.
Truk itu berhenti sebentar karena macet di depan gerbang. Di atas tumpukan sampah itu... Ada bapak-bapak tua lagi milah plastik. Bajunya kotor, hitam legam.
Dan di samping truk itu... Ada Iwan. Lagi lari-lari kecil nyamperin bapak itu.
Saya kaget. Saya perhatikan dari jauh. Iwan cium tangan bapak itu. Lalu dia naik ke atas truk sampah. Masih pakai seragam sekolah.
Dia bantu bapaknya ngangkat karung sampah yang bau busuk itu.
Ternyata... Bapaknya Iwan adalah petugas pengangkut sampah yang rutenya lewat sekolah tiap sore. Iwan selalu ikut bantu bapaknya sepulang sekolah.
Saya langsung paham. Kenapa dia mandi parfum. Kenapa dia panik pas parfumnya saya sita. Dia bukan genit. Dia bukan alay.
Dia cuma berusaha menutupi bau sampah yang menempel di tubuhnya... Supaya teman-temannya gak nge-bully dia. Supaya dia gak bau "busuk" di dalam kelas.
Parfum murah yang menyengat itu adalah topeng. Topeng untuk menutupi kerasnya hidup yang harus dia jalani sepulang sekolah.
Saya lari hujan-hujanan nyamperin truk itu. Saya balikin parfumnya. Saya selipkan uang jajan di tangannya.
"Wan, maafin Bapak."
"Kamu wangi, Nak."
"Sumpah, kamu anak paling wangi yang pernah Bapak kenal."Iwan nangis. Saya nangis. Hujan menyamarkan air mata kami.
Kita sering menghina orang yang "berlebihan". Padahal mungkin, itu satu-satunya cara mereka bertahan menjaga harga diri.
Sumber: Threads @ipadevpro
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perilaku yang tampak “berlebihan” sering kali merupakan strategi sosial untuk mempertahankan martabat di tengah tekanan struktural. Dalam perspektif sosiologi interaksi simbolik, tubuh bukan sekadar entitas biologis, melainkan medium makna. Bau, pakaian, gaya bicara, dan cara membawa diri menjadi simbol yang dibaca dan dinilai oleh lingkungan sosial. Ketika simbol itu dianggap menyimpang dari norma dominan, individu rentan mengalami stigmatisasi.
Erving Goffman menjelaskan bahwa stigma muncul ketika atribut tertentu diasosiasikan dengan nilai negatif yang merendahkan status sosial seseorang. Dalam konteks ini, “bau sampah” berpotensi menjadi stigma yang dilekatkan bukan hanya pada tubuh Iwan, tetapi juga pada identitas kelas keluarganya. Anak dari pekerja pengangkut sampah berada pada posisi rentan dalam struktur stratifikasi sosial, karena pekerjaan tersebut secara historis dikonstruksi sebagai pekerjaan kasar dengan prestise rendah.
Apa yang dilakukan Iwan dapat dipahami sebagai bentuk manajemen kesan. Ia berusaha mengontrol persepsi teman-temannya dengan mengganti kemungkinan bau sampah menjadi aroma parfum, meskipun berlebihan. Secara sosiologis, tindakan itu adalah mekanisme pertahanan diri terhadap kemungkinan ejekan dan perundungan. Parfum murah menjadi instrumen simbolik untuk menghindari pelabelan negatif.
Namun demikian, kisah ini juga menunjukkan bagaimana prasangka dapat muncul bahkan dari figur otoritas seperti guru. Interpretasi awal yang menganggap Iwan “genit” atau “alay” merefleksikan kecenderungan masyarakat untuk menilai perilaku tanpa memahami konteks struktural yang melatarbelakanginya. Di sinilah empati sosial menjadi penting. Empati bukan sekadar rasa iba, tetapi kesediaan untuk membaca realitas sosial secara lebih mendalam sebelum memberikan penilaian moral.
Lebih jauh, cerita tersebut mengingatkan bahwa mobilitas sosial tidak pernah berdiri di ruang hampa. Anak-anak dari keluarga pekerja sektor informal atau pekerjaan berisiko sering membawa beban ganda. Di satu sisi, mereka berusaha memenuhi tuntutan akademik. Di sisi lain, mereka turut berkontribusi dalam ekonomi keluarga. Dalam banyak kasus, strategi adaptif yang mereka gunakan kerap disalahartikan sebagai penyimpangan.
Sekolah seharusnya menjadi ruang aman yang memutus rantai stigma kelas, bukan justru mereproduksinya. Pendidikan bukan hanya transmisi pengetahuan kognitif, tetapi juga pembentukan kesadaran sosial. Guru dan siswa perlu dilatih untuk memahami keberagaman latar belakang sosial sebagai realitas yang harus dihargai.
Kisah Iwan menegaskan satu hal mendasar: di balik sesuatu yang terasa mengganggu, bisa jadi tersembunyi perjuangan yang tidak terlihat. Apa yang tampak sebagai “polusi” mungkin sebenarnya adalah usaha mempertahankan harga diri. Dan dalam masyarakat yang masih sarat stratifikasi, menjaga harga diri sering kali menjadi perjuangan paling sunyi.
Tidak ada komentar