Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 2 Sosiologia Ramadan 1447: Semangat Ramadan

Dr. H. M. Ihsan Darwis Sampaikan Ceramah Malam Kedua Ramadhan Bertajuk “ Semangat Ramadhan ” di Masjid Al-Furqan Parepare — Memasuki malam...

Dr. H. M. Ihsan Darwis Sampaikan Ceramah Malam Kedua Ramadhan Bertajuk “Semangat Ramadhan” di Masjid Al-Furqan

Parepare — Memasuki malam kedua Ramadhan, Dr. H. M. Ihsan Darwis, M.Si., dosen Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Parepare, menyampaikan ceramah bertajuk “Semangat Ramadhan” di Masjid Al-Furqan, Jalan Bung Perintis Kemerdekaan. Dalam ceramah tersebut, ia mengajak jamaah merefleksikan makna komitmen dan ketulusan dalam menjalani ibadah puasa melalui kisah sederhana yang sarat nilai pendidikan moral.

Ceramah diawali dengan kisah:

"izinkan saya berbagi sebuah kisah sederhana namun sarat makna. Kisah tentang semangat puasa dari seorang anak kecil berusia enam tahun, Aqilah Latifah Ihsan. Di pagi pertama Ramadhan, ia bangun sahur dengan mata yang masih mengantuk namun hati yang penuh semangat. Ketika ditanya apakah ia ingin berpuasa, ia menjawab mantap, “Aqilah puasa, Ayah.” Sebagai orang tua, terlintas dalam pikiran bahwa mungkin ia hanya akan bertahan setengah hari. Namun ketika siang hari tiba dan saya menawarkan untuk berbuka lebih awal, ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Tidak ada puasa setengah hari, Ayah. Kata Bu Guru, puasa itu sampai waktu berbuka. Kalau niatnya puasa, ya harus penuh.” 

Bagi Dr. Ihsan, ungkapan polos tersebut mengandung pesan mendalam tentang komitmen dan kesungguhan dalam beribadah. Menurutnya, puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan latihan membangun ketakwaan. Allah swt mewajibkan puasa agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Ketakwaan, dalam penjelasannya, tidak lahir dari ibadah yang hampa makna, tetapi dari perjuangan menahan diri, mengendalikan amarah, menjaga lisan dari ghibah, serta menahan hati dari iri dan dengki. Jika seorang anak yang belum terbebani kewajiban syariat mampu memahami arti komitmen, maka orang dewasa yang telah baligh semestinya memiliki kesadaran yang lebih mendalam.

Dalam perspektif sosiologi agama, kisah tersebut juga menunjukkan pentingnya peran pendidikan dan lingkungan sosial. Dr. Ihsan menekankan bahwa pembentukan karakter tidak hanya terjadi di dalam keluarga, tetapi juga melalui peran guru dan institusi pendidikan. Pesan sederhana dari seorang guru dapat membentuk integritas seorang anak. Hal ini mengindikasikan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga ruang reproduksi nilai dan etika sosial.

Ia juga mengajak jamaah untuk belajar dari ketulusan anak-anak. Anak kecil berpuasa bukan karena takut dosa, melainkan karena dorongan belajar dan keteladanan. Ketulusan tersebut, menurutnya, menjadi cermin bagi orang dewasa yang kerap menjalani Ramadhan sebagai rutinitas tahunan tanpa refleksi mendalam. Ramadhan semestinya dihidupi dengan peningkatan kualitas ibadah, mulai dari shalat yang lebih khusyuk, tilawah yang lebih konsisten, hingga sedekah yang lebih ringan tangan.

Selain itu, ia mengingatkan agar tidak meremehkan kebaikan kecil. Keteguhan seorang anak dapat menjadi pengingat bagi orang tuanya. Hidayah, dalam pandangannya, dapat datang melalui siapa saja. Ramadhan adalah madrasah ruhani yang melatih disiplin waktu, pengendalian diri, dan penguatan iman.

Menutup ceramahnya, Dr. Ihsan mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan, bukan sekadar pengulangan tahunan. Ia mengingatkan agar setiap individu bertanya pada dirinya sendiri apakah puasa yang dijalani sudah sungguh-sungguh atau masih sebatas formalitas. 

Pesan ini dinilai relevan dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas pada indikator 4.7 tentang pendidikan karakter dan nilai, serta SDG 16 Perdamaian dan Kelembagaan Tangguh pada indikator 16.7 tentang penguatan kohesi sosial. Selain itu, semangat berbagi selama Ramadhan juga berkaitan dengan SDG 1 Tanpa Kemiskinan melalui praktik solidaritas dan kepedulian sosial.

Ceramah malam kedua tersebut berlangsung dengan khidmat dan mendapat respons antusias dari jamaah. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa semangat Ramadhan harus diwujudkan dalam komitmen nyata dan transformasi karakter, sehingga bulan suci ini benar-benar menjadi ruang pembinaan diri dan peningkatan kualitas keimanan.




Tidak ada komentar