Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 16 Sosiologia Ramadan 1447: Antara Iqra’ dan Cacophony: Mencari Kejernihan Agama di Ruang Publik

Oleh       H.M. Ihsan Darwis Dosen    Sosiologi Agama IAIN Parepare  Saya tertarik dengan tulisan saudara Mazhud Azikin berjudul “Iqra’ di T...

Oleh       H.M. Ihsan Darwis

Dosen    Sosiologi Agama IAIN Parepare

 Saya tertarik dengan tulisan saudara Mazhud Azikin berjudul “Iqra’ di Tengah Cacophony”. Gagasan beliau angkat terasa sederhana, namun memiliki kedalaman makna sosial yang kuat. Ketika dia mengatakan bahwa “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar,” sesungguhnya dia sedang memperingatkan sebuah gejala sosial yang dalam perspektif sosiologi agama dapat disebut sebagai krisis literasi keagamaan. Fenomena hiruk pikuk riuh suara rendah tanpa harmoni, bukan hanya masalah komunikasi, tetapi juga masalah sosial-keagamaan. Dalam masyarakat modern, terutama di era digital, ruang publik mengalami demokratisasi opini. Semua orang dapat berbicara, termasuk berbicara atas nama agama. Namun ketika otoritas pengetahuan tidak diimbangi dengan tradisi membaca yang kuat, maka yang lahir bukanlah dialog, melainkan benturan.

Dalam perspektif agama sosiologi, agama memiliki fungsi integratif: ia menjadi perekat sosial, sumber nilai, dan pedoman moral dalam interaksi masyarakat. Namun fungsinya bisa melemah ketika simbol-simbol agama dikonsumsi secara instan dan dikonsumsi secara sepotong-sepotong. Ayat yang dikutip tanpa konteks, tafsir disebar tanpa metodologi, dan kejadiannya dilakukan tanpa adab. Inilah yang oleh Mazhud Azikin disebut sebagai hiruk pikuk spiritual. Jika kita kembali ke peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam 17 Ramadhan yang dikenal sebagai Nuzulul Quran kita menemukan pesan sosiologis yang sangat penting. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah untuk berbicara, melainkan perintah membaca: Iqra’. Ini bukan sekedar pesan teologis, tapi juga revolusi sosial. Masyarakat Arab pra-Islam dikenal kuat dalam budaya lisan, retorika, syair, dan pidato. Namun Islam hadir dengan pergeseran orientasi itu budaya literasi dan pencarian ilmu. Secara sosiologis, perintah Iqra’ adalah fondasi transformasi peradaban: dari masyarakat yang mengandalkan spontanitas menuju masyarakat yang menempatkan pengetahuan sebagai tindakan dasar.

Dalam konteks hari ini, ketika orang lebih cepat bereaksi dari berefleksi, pesan Iqra’ menjadi sangat relevan. Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa legitimasi berbicara harus didahului oleh legitimasi pemahaman. Bahwa sebelum “Qul” (katakanlah), ada “Iqra’” (bacalah). Artinya, sebelum menyampaikan pendapat, seseorang harus menempuh proses pemahaman, baik terhadap teks wahyu maupun terhadap kenyataan sosial. Ramadhan, sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sejatinya adalah momentum kebangkitan kesadaran kolektif. Ia bukan hanya ibadah individu, tetapi proses terbentuknya solidaritas sosial melalui tadarus, kajian, dan dialog ilmiah. Jika Ramadhan justru memuat musim panas di media sosial, maka kita sedang menjauh dari semangat Nuzulul Qur’an itu sendiri. Dalam perspektif sosiologi agama, krisis literasi adalah krisis melahirkan makna. Ketika masyarakat kehilangan kedalaman dalam membaca, maka agama berisiko direduksi menjadi slogan. Dan ketika slogan agama menjadi, ia mudah dijadikan alat polarisasi. Oleh karena itu, tanggapan atas tulisan Mazhud Azikin dapat ditegaskan bahwa solusi atas hiruk pikuk bukanlah membungkam suara, tetapi menghidupkan kembali etos Iqra’. Membaca sebelum berbicara. Pahami sebelum menilai. Merefleksi sebelum bereaksi. Peradaban Islam dimulai dari ruang sunyi Gua Hira, bukan dari keramaian pasar. Ia dimulai dari perintah membaca, bukan dari perintah berdebat. Maka dalam konteks kekinian, menghidupkan kembali makna Nuzulul Qur’an berarti mengembalikan agama pada fungsi utamanya: sebagai cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. Dan mungkin, di tengah riuhnya dunia digital hari ini, kita memang perlu kembali secara simbolik ke Gua Hira, menciptakan ruang hening dalam diri, agar Iqra’kembali menjadi fondasi sebelum kata terucap.

Peristiwa turunnya wahyu di Gua Hira terjadi dalam suasana sunyi, jauh dari keramaian dan keramaian-pikuk sosial. Kesunyian itu bukan suatu kebetulan. Ia adalah simbol bahwa transformasi sosial jauh lebih penting, ketika berawal dari perenungan mendalam. Dalam konteks sosiologi agama, pengalaman sakral seperti ini sering menjadi titik balik perubahan struktur sosial dan diawali dari ruang kontemplatif sehingga lahir energi moral yang kemudian menggerakkan masyarakat. Ketika wahyu pertama berbunyi Iqra’, maka yang sedang dibangun bukan hanya individu yang saleh, tetapi masyarakat yang berpengetahuan. Perintah pembacaan itu mengandung pesan bahwa perubahan sosial tidak dimulai dari teriakan massa, melainkan dari kesadaran intelektual dan spiritual. Ketika dihubungkan dengan fenomena hiruk-pikuk hari ini, terlihat adanya kontras yang tajam. Nuzulul Qur’an mengajarkan kesunyian reflektif, sedangkan media sosial menghadirkan gangguan reaktif. Wahyu turun dalam keheningan, sementara kita sering menyikapi agama dalam kegaduhan. Pentingnya menjadikan malam Nuzulul Qur’an sebagai momen muhasabah sosial, bukan sekadar seremonial.

Dalam perspektif sosiologi agama, setiap peringatan keagamaan memiliki fungsi membangun kembali kesadaran kolektif (collective awareness). Malam Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas umat melalui ilmu, bukan memperlebar perbedaan melalui opini yang belum matang. Ia mengingatkan bahwa agama berfungsi sebagai sumber keteraturan sosial dan etika komunikasi. Ramadhan, khususnya malam 17, adalah momentum untuk menata ulang cara kita berinteraksi di ruang publik. Jika Al-Qur’an diturunkan sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia), maka ia seharusnya menjadi sumber kejernihan di tengah kebingungan, bukan alat memperkeruh suasana. Spirit Iqra’ menuntut kita untuk memperbanyak tadabbur, memperdalam literasi, dan menahan diri dari komentar yang lahir tanpa pemahaman. Ketika, menjadikan malam Nuzulul Qur’an sebagai refleksi untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita membaca sebelum berbicara? Sudahkah kita memahami sebelum menyimpulkan? Sudahkah kita menempatkan ilmu sebagai dasar sikap? Karena sejatinya, hiruk-pikuk sosial yang kita alami hari ini adalah tanda melemahnya tradisi membaca dan menguatnya budaya instan. Jika peradaban Islam lahir dari satu kata, ‘Iqra’ maka kebangkitan moral umat pun harus dimulai dari kata yang sama. Malam Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa cahaya wahyu tidak turun untuk memperbanyak suara, tetapi untuk memperdalam makna. Dan hanya dengan kembali pada tradisi membaca, membaca wahyu, membaca realitas, dan membaca diri kita sendiri dapat mengubah gangguan menjadi harmoni, serta menjadikan agama kembali sebagai rahmat bagi alam semesta.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan mereka yang gemar berkomentar, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Setiap opini membawa konsekuensi sosial. Dan setiap mengutip ayat menuntut kedalaman pemahaman. Di tengah dunia yang bergerak cepat, barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah tambahan suara, melainkan kedalaman makna. Semoga peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini 1447 tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjelma menjadi kesadaran yang transformasional. Karena peradaban yang besar tidak dibangun oleh banyaknya suara, melainkan oleh kedalaman ilmu dan kejernihan hati.

Wallahu a'lam bishawab

(وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ) adalah ungkapan bahasa Arab yang berarti "Dan Allah lebih mengetahui mana yang benar/kebenaran yang sesungguhnya". Kalimat ini digunakan sebagai bentuk kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan ilmu manusia dan mengembalikan hakikat kebenaran hanya kepada Allah SWT,



Tidak ada komentar