Dr. H. M. Ihsan Darwis Sampaikan Ceramah Ramadhan Bertajuk “Ramadhan Dinamakan Sayyidu Syuhur” di Masjid Al-Ikhlas, Makassar 18/02/2026— Ma...
Dr. H. M. Ihsan Darwis Sampaikan Ceramah Ramadhan Bertajuk “Ramadhan Dinamakan Sayyidu Syuhur” di Masjid Al-Ikhlas, Makassar
18/02/2026— Malam pertama Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas, Perumahan Pesona Griya Borong Raya Makassar, diisi dengan ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Dr. H. M. Ihsan Darwis, M.Si, dosen Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Parepare. Ceramah tersebut mengangkat tajuk “Ramadhan Dinamakan Sayyidu Syuhur”, yang mengulas kedudukan istimewa bulan Ramadhan dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bulan Ramadhan dalam tradisi Islam tidak sekadar dipahami sebagai periode ibadah ritual tahunan, melainkan sebagai fase spiritual yang memiliki kedudukan istimewa dalam struktur waktu keagamaan umat Islam. Ramadhan dinamakan sayyidu syuhur, yang berarti penghulu atau pemimpin dari seluruh bulan. Penamaan ini bukan tanpa dasar, melainkan bersandar pada argumentasi teologis yang kuat, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw.
Alasan pertama Ramadhan disebut sayyidu syuhur adalah karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Allah swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan wahyu, bulan turunnya pedoman hidup manusia. Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya diisi dengan intensifikasi interaksi dengan Al-Qur’an, baik melalui tilawah, tadabbur, maupun pengamalan nilai-nilainya. Ajakan sederhana seperti one day one juz merupakan bentuk konkret komitmen spiritual agar Ramadhan tidak berlalu tanpa kedekatan dengan kitab suci.
Alasan kedua, Ramadhan disebut sayyidu syuhur karena di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Allah swt berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3:
خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “(Malam itu) lebih baik daripada seribu bulan.”
Seribu bulan setara dengan kurang lebih 83 tahun. Jika dihitung berdasarkan rata-rata usia manusia, angka tersebut mendekati rentang kehidupan panjang seseorang. Dengan demikian, satu malam dalam Ramadhan dapat bernilai lebih tinggi daripada usia panjang manusia. Konsep ini menunjukkan bahwa dalam Islam terdapat kualitas waktu, bukan hanya kuantitas waktu. Sebagaimana dalam satu pekan terdapat hari istimewa yaitu Jumat, dan dalam satu malam terdapat waktu mustajab pada sepertiga malam terakhir, maka dalam satu tahun terdapat bulan yang istimewa, yaitu Ramadhan.
Alasan ketiga, Ramadhan disebut sayyidu syuhur karena limpahan rahmat, ampunan, dan penerimaan amal yang dijanjikan Allah swt. Rasulullah saw bersabda:
لَوْ تَعْلَمُ اُمَّتِيْ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ
Artinya: “Seandainya umatku mengetahui keutamaan di bulan Ramadhan, niscaya mereka berharap agar setahun penuh menjadi Ramadhan.” (HR Ibnu Khuzaimah)
Dalam bulan ini, ketaatan diterima (watta’ah maqbulatun), doa dikabulkan (wad-du’a mustajab), dan dosa-dosa diampuni (wadzunuba maghfuratun). Oleh karena itu, Ramadhan merupakan momentum purifikasi diri. Intensifikasi zikir, istigfar, sedekah, dan ibadah lainnya menjadi jalan untuk meraih ampunan dan rahmat Allah swt.
Alasan keempat, ibadah puasa memiliki dimensi keikhlasan yang sangat mendalam. Puasa adalah ibadah yang bersifat personal dan tersembunyi. Seseorang dapat saja berpura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi tidak mungkin mengelabui Allah swt. Dengan demikian, puasa mendidik kejujuran, integritas moral, dan pengendalian diri. Ibadah ini membentuk kesadaran spiritual bahwa pengawasan Allah bersifat mutlak dan menyeluruh.
Ramadhan sebagai sayyidu syuhur bukan sekadar gelar simbolik, melainkan sebuah panggilan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan moralitas. Jika Ramadhan diisi dengan kedisiplinan spiritual, maka nilai-nilai yang terbangun di dalamnya diharapkan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Semoga Ramadhan yang dijalani menjadi ruang pembentukan kesalehan personal dan sosial, serta menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, wa ilallahi turja’ul umur.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Lebih lanjut, jika dikaitkan pesan Ramadhan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Nilai empati dan kepedulian sosial yang ditekankan dalam ibadah puasa dinilai sejalan dengan SDG 1: Tanpa Kemiskinan, khususnya indikator 1.2 yang menargetkan pengurangan proporsi penduduk miskin berdasarkan definisi nasional. Praktik zakat, infak, dan sedekah yang meningkat selama Ramadhan berkontribusi terhadap redistribusi sumber daya di tingkat lokal.
Selain itu, semangat berbagi dan kepedulian terhadap kelompok rentan juga relevan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, terutama indikator 10.2 yang mendorong pemberdayaan dan inklusi sosial bagi semua kalangan. Tradisi buka puasa bersama dan santunan kepada kaum dhuafa, menurutnya, merupakan praktik konkret penguatan inklusi sosial berbasis nilai keagamaan.
Dalam konteks pembentukan karakter dan kesadaran moral, pesan Ramadhan juga berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya indikator 4.7 yang menekankan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, dan budaya damai. Pembiasaan membaca Al-Qur’an, penguatan literasi spiritual, serta internalisasi nilai integritas melalui puasa dinilai sebagai bagian dari pendidikan karakter yang berkelanjutan.
Dengan demikian, ceramah malam pertama tersebut tidak hanya menghadirkan refleksi teologis mengenai kemuliaan Ramadhan sebagai sayyidu syuhur, tetapi juga menawarkan kerangka relevansi nilai-nilai keagamaan dengan agenda pembangunan global yang berorientasi pada keadilan sosial, pengurangan kemiskinan, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Tidak ada komentar