Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 8 Sosiologia Ramadan 1447: Mata yang Tersisa, Cinta yang Tak Pernah Pergi

  Oleh :   M.Ihsan Darwis Dosen  Sosiologi Agama IAIN Parepare Melalui tulisan ini, para pembaca diajak berhenti sejenak dan bertanya dengan...

 

Oleh :   M.Ihsan Darwis

Dosen  Sosiologi Agama IAIN Parepare

Melalui tulisan ini, para pembaca diajak berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sejauh mana cinta seorang ibu dibalas dengan sikap yang layak? Sudahkah disadari bahwa di balik capaian akademik, karier, dan status sosial yang diraih hari ini, ada doa yang dilangitkan dalam sunyi dan air mata yang jatuh tanpa saksi?

Kisah ini mungkin telah berulang kali dibaca. Namun pertanyaannya bukan lagi apakah cerita itu dikenal, melainkan apakah maknanya benar-benar diendapkan.

Alkisah, seorang anak laki-laki tumbuh bersama ibunya yang bermata satu. Sejak kecil ia memendam rasa malu. Bagi dirinya, ibunya adalah sumber ejekan, simbol kekurangan yang membuatnya tersudut di hadapan teman-teman. Setiap kali sang ibu datang ke sekolah atau sekadar menyapanya dengan senyum hangat, yang muncul bukan rasa bangga, melainkan amarah dan penolakan. Ia ingin diakui oleh lingkungannya. Ia ingin dianggap normal. Ia ingin diterima.

Pada suatu hari, dengan emosi yang meluap, ia mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak pernah keluar dari seorang anak kepada ibunya. Ia berharap ibunya pergi dari hidupnya. Sang ibu hanya terdiam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada amarah. Hanya sunyi yang menanggung luka.

Waktu berlalu. Anak itu tumbuh dewasa, meraih pendidikan tinggi, memperoleh pekerjaan bergengsi, dan mengalami mobilitas sosial vertikal yang membawanya menjauh dari akar kehidupannya. Namun kabar duka datang dari seorang tetangga. Ibunya telah tiada. Bersama kabar itu, diserahkan sepucuk surat.

Dengan tangan gemetar ia membaca.

Di dalamnya tidak ada keluhan. Tidak ada penyesalan. Hanya ungkapan bangga dan permintaan maaf karena merasa pernah membuat anaknya malu. Lalu terungkap sebuah rahasia: ketika sang anak kecil mengalami kecelakaan dan kehilangan satu mata, ibunya dengan sukarela memberikan satu matanya agar anaknya dapat melihat dunia secara utuh. Ia rela hidup dengan satu mata, asalkan anaknya dapat memandang masa depan tanpa cacat.

Di titik itulah seluruh kebencian runtuh menjadi penyesalan. Mata yang dahulu dianggap aib ternyata adalah simbol cinta paling radikal. Namun kesadaran itu datang setelah kehadiran yang dicintai tak lagi bisa disentuh.

Kisah ini bukan sekadar narasi sentimental. Dalam perspektif sosiologi, keluarga merupakan institusi primer dalam proses sosialisasi. Ibu berfungsi sebagai agen sosial yang mentransmisikan nilai, norma, dan orientasi moral. Melalui interaksi sehari-hari, seorang anak belajar tentang empati, kasih sayang, dan tanggung jawab. Namun struktur sosial di luar keluarga, khususnya kelompok sebaya, kerap menghadirkan tekanan simbolik yang kuat. Pengakuan sosial sering kali lebih diutamakan daripada loyalitas emosional.

Dalam kerangka pemikiran Erving Goffman, kondisi fisik sang ibu dapat dipahami sebagai stigma, yaitu atribut yang dilabeli negatif oleh masyarakat sehingga memproduksi identitas “tidak normal”. Sang anak, yang belum matang secara emosional, menginternalisasi stigma tersebut dan menjadikannya dasar penilaian terhadap ibunya sendiri. Di sini terlihat bagaimana konstruksi sosial mampu menggeser kesadaran moral individu.

Keberhasilan yang kemudian diraih sang anak justru menciptakan jarak emosional dari asal-usulnya. Fenomena ini dapat dipahami sebagai alienasi kultural, yaitu keterasingan dari nilai-nilai awal demi memperoleh legitimasi dalam struktur status yang lebih tinggi. Namun demikian, mobilitas sosial yang tidak diiringi kedewasaan moral dapat melahirkan kekosongan batin.

Dalam perspektif sosiologi agama, cinta seorang ibu tidak hanya dipahami sebagai relasi biologis atau sosial, melainkan sebagai nilai sakral. Dalam tradisi Islam, kedudukan ibu ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi. Sabda Nabi Muhammad Saw yang menyatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu menegaskan dimensi transenden dari relasi tersebut. Menghormati ibu bukan sekadar etika keluarga, melainkan bagian dari kesadaran religius.

Sejalan dengan pandangan Émile Durkheim, agama berfungsi memperkuat solidaritas sosial dan membangun kesadaran kolektif. Ketika seorang anak menyakiti ibunya, yang dilanggar bukan hanya norma privat, tetapi juga norma sakral yang menopang tatanan moral masyarakat. Dalam konteks ini, pengorbanan sang ibu dapat dipahami sebagai bentuk altruisme murni, tindakan tanpa pamrih yang melampaui kepentingan diri.

Pertanyaannya kini kembali kepada pembaca: berapa banyak di antara kita yang tanpa sadar lebih takut pada ejekan publik daripada kehilangan pelukan seorang ibu? Berapa sering pengakuan sosial dikejar, sementara kasih sayang yang paling tulus justru diabaikan?

Cinta seorang ibu tidak menuntut balasan setara. Ia tidak meminta panggung. Ia sering kali bekerja dalam diam. Namun justru dalam kesenyapan itulah fondasi peradaban dibangun. Jika penghormatan kepada ibu memudar, yang tergerus bukan hanya relasi keluarga, melainkan juga struktur moral masyarakat.

Kisah ini adalah cermin. Bukan untuk menilai orang lain, tetapi untuk menilai diri sendiri. Selagi ibu masih ada, jangan menunggu surat terakhir untuk memahami maknanya. Sebab ketika penyesalan datang, waktu tidak pernah berjalan mundur.

Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakaingnge.

Wallahu a’lam bisawab.

Tidak ada komentar