Parepare, 14 Maret 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sosiologi Agama menginisiasi kegiatan bertajuk Ecosocial Ramadan yang mema...
Secara konseptual, kegiatan ini dapat dibaca dalam kerangka ekoteologi, yaitu suatu pendekatan dalam studi agama yang menekankan relasi etis antara manusia, alam, dan Tuhan. Ekoteologi memandang bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki nilai intrinsik dan harus dijaga sebagai bentuk tanggung jawab spiritual. Dalam konteks ini, tindakan membersihkan pantai tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekologis, tetapi juga sebagai praksis keagamaan yang merefleksikan nilai amanah dan khalifah dalam menjaga bumi.
Inisiatif kegiatan ini digagas oleh Ketua Program Studi Sosiologi Agama, A. Nurul Mutmainnah, M.Si, yang mengarahkan mahasiswa agar praktik berbagi di bulan Ramadan tidak hanya berorientasi pada dimensi karitatif, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan. Menurutnya,
“Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna ibadah sosial, termasuk dalam menjaga relasi harmonis antara manusia dan alam.”
Ketua Program Studi Sosiologi Agama, A. Nurul Mutmainnah, M.Si, dalam pernyataannya menegaskan bahwa
“kegiatan Ecosocial Ramadan ini merupakan bentuk konkret dari nilai ekoteologi, di mana ajaran agama tidak hanya dipraktikkan dalam hubungan antar manusia, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Ramadan menjadi momentum untuk membangun kesadaran spiritual yang berdampak sosial dan ekologis sekaligus.”
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa bersama dosen dan masyarakat setempat berhasil mengumpulkan sekitar 5 karung sampah plastik berukuran 100 × 90 cm. Secara estimatif, satu karung sampah dengan ukuran tersebut dapat menampung sekitar 10–15 kilogram, sehingga total sampah yang terkumpul diperkirakan mencapai 50–75 kilogram. Angka ini menunjukkan tingginya tingkat pencemaran di area tersebut sekaligus menegaskan urgensi intervensi berkelanjutan.
Selain aksi bersih pantai, kegiatan ini juga diiringi dengan pembagian takjil kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk solidaritas sosial. Kombinasi antara aksi ekologis dan filantropi ini mencerminkan pendekatan integratif dalam membangun kesadaran kolektif yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan manusia, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Dalam pernyataannya, ia juga menyoroti dimensi solidaritas sosial dalam kegiatan tersebut, khususnya melalui pembagian takjil kepada masyarakat yang melintas di sekitar lokasi, seperti tukang becak, pemulung, dan kelompok pekerja informal lainnya. Ia menyatakan bahwa
“pembagian takjil ini tidak hanya dimaknai sebagai praktik berbagi, Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk membangun kepekaan sosial dan memperkuat nilai empati”
Kegiatan ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan ke-11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta ke-14 (Ekosistem Laut). Implementasi kegiatan bersih pantai mencerminkan upaya konkret dalam mengurangi pencemaran laut akibat limbah plastik, sementara pembagian fasilitas kebersihan menunjukkan komitmen terhadap penguatan kapasitas lokal dalam menjaga lingkungan.
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, HMPS dan pihak program studi juga menyerahkan dua unit tempat sampah dan sapu lidi kepada masyarakat sekitar. Intervensi ini dimaksudkan untuk mendorong praktik kebersihan berbasis komunitas agar tidak berhenti pada kegiatan simbolik, melainkan berlanjut sebagai kebiasaan sosial yang terinstitusionalisasi.
Namun demikian, tantangan utama terletak pada konsistensi partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan seperti Ecosocial Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi agenda temporer, tetapi juga menjadi model praksis sosial yang dapat direplikasi dalam konteks lain. Dalam hal ini, jika kesempatan, program selanjutnya dari prodi Sosiologi Agama menginginkan pembentukan komunitas peduli lingkungan pantai oleh masyarakat sekitar.
Melalui kegiatan ini, HMPS Sosiologi Agama tidak hanya menunjukkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, tetapi juga menegaskan bahwa transformasi ekologis harus dimulai dari kesadaran kolektif yang dibangun melalui aksi nyata di tingkat lokal.
Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi komunitas lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan, terutama dalam mengurangi sampah plastik di kawasan pesisir.
BalasHapusTunnel Rush