Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Postingan Populer

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Day 26 Sosiologia Ramadan 1447: Hidup Segan, Mati Tak Mau: Fotret Stagnasi sosial

Oleh    :   H.M. Ihsan Darwis Dosen  :   Sosiologi Agama IAIN Parepare   Ungkapan ini biasa kita dengar dari masyarakat bahwa “Hidup Segan, ...



Oleh    :   H.M. Ihsan Darwis
Dosen  :   Sosiologi Agama IAIN Parepare

 Ungkapan ini biasa kita dengar dari masyarakat bahwa “Hidup Segan, Mati Tak Mau”. Pribahasa tersebut menggambarkan keadaan seseorang yang hidup dalam keadaan sulit, serba kekurangan atau tidak berdaya untuk maju, akan tetapi juga belum sampai pada titik kehancuran, artinya kehidupan berjalan apa adanya tanpa ada perkembangan atau kemajuan yang berarti, benar tidak mau hidup sejahtera dan juga belum berakhir hidupnya. Secara sederhana ungkapan tersebut menggambarkan kehidupan yang stagnan dengan penuh keterbatasan dan tidak ada motivasi untuk maju akan tetapi tetap bertahan hidup. Dalam perspektif makna sosial, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi seseorang atau kelompok masyarakat yang hidup dalam tekanan ekonomi, sosial maupun psikologis, sehingga mereka hanya mampu bertahan tanpa memiliki kekuatan untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Contoh misalnya: Seorang pedagang kecil di pasar setiap hari berjualan dari pagi sampai malam akan tetapi hasil yang diperoleh hanya cukup untuk membeli kebutuhan makan hari itu saja. Ia tidak mampu menabung atau meningkatkan usahanya karena keuntungan yang sangat kecil. Situasi seperti ini disebut “hidup segan, mati tak mau”, karena ia masih hidup dan bekerja, tetapi kehidupannya tidak berkembang dan selalu berada dalam kesulitan. 

Fenomena ini dapat dilihat dari kondisi sebagian masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, tekanan sosial yang semakin kompleks. Demikian halnya situasi dan kondisi saat ini, banyak orang berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang tidak mudah. Akan tetapi mereka tetap bekerja, tetap berjuang dan hasil yang diperoleh sering kali belum mampu mengangkat mereka dari kesulitan yang dihadapi. Akibatnya, kehidupan mereka tetap berjalan dalam keadaan stagnan, tidak ada perkembangan secara signifikan. Fenomena inilah yang disebut sebagai “hidup segan, mati tak mau” Dari perspektif ilmu sosial, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk bertahan hidup, akan tetapi juga membutuhkan harapan dan peluang untuk berkembang. dan ketika masyarakat hanya berada pada kondisi bertahan tanpa adanya jalan untuk maju, maka kehidupan sosial akan dipenuhi dengan rasa kelelahan, kekecewaan, bahkan kehilangan optimisme. 

Namun di balik realitas sosial tersebut, masyarakat sebenarnya masih memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu daya tahan sosial. Dan banyak orang yang tetap berusaha, tetap bekerja, dan tetap menjaga harapan meskipun berada dalam situasi yang sulit. Semangat inilah yang menjadi bukti bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bertahan dan bangkit dari berbagai tantangan kehidupan. Oleh karena itu, fenomena “hidup segan, mati tak mau” seharusnya menjadi refleksi bagi semua pihak, baik pemerintah, pemimpin masyarakat, maupun individu untuk melihat kembali kondisi sosial yang ada. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kebijakan yang bersifat sementara, tetapi juga kebijakan yang mampu membuka peluang kehidupan yang lebih layak dan berkeadilan. Oleh karena itu dalam kehidupan sosial yang sehat bukanlah kehidupan yang sekedar bertahan hidup, akan tetapi kehidupan yang memberikan ruang bagi setiap manusia untuk hidup dengan martabat, harapan, dan masa depan yang lebih baik. Olehnya itu, setiap manusia tidak diciptakan hanya untuk sekedar bertahan hidup, akan tetapi untuk berkembang dan memberikan makna bagi kehidupan sosialnya. 

Dalam fotret sosiologi agama menjelaskan bahwa, manusia seharusnya berfungsi sebagai sumber motivasi dan makna hidup bagi manusia. Agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi juga memberikan semangat untuk bekerja, berusaha, dan bahkan memperbaiki kehidupan sosial yang ada disekitarnya. Namun dalam kenyataan sosial, ada masyarakat yang tetap menjalani kehidupan secara rutin tanpa adanya perubahan berarti. Mereka hidup dalam kondisi yang sulit tetapi juga tidak memiliki energi sosial untuk melakukan perubahan. Inilah yang sering digambarkan sebagai kondisi hidup segan, mati tak mau. Contoh lain misalnya: ada masyarakat yang hidup dalam keadaan kemiskinan struktural dan mereka bekerja sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, akan tetapi tidak memiliki akses pendidikan, peluang ekonomi ada harapan, dukungan sosial yang memadai untuk keluar dari kemiskinan tersebut. Akan tetapi tidak ada garansi untuk keluar dari kemiskinan tersebut. Pada hal dalam perspektif sosilogi agama melihat bahwa agama memiliki peran penting sebagai kekuatan transformasi sosial. Ketika nilai-nilai agama berfungsi dalam kehidupan sosial masyarakat seperti kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas sosial hidup dalam masyarakat, maka masyarakat akan memiliki energi untuk berkembang. Namun sebaliknya, ketika nilai-nilai agama hanya dipahami secara ritual tanpa diwujudkan dalam tindakan sosial, maka kehidupan masyarakat dapat mengalami stagnasi.Misalanya

Masyarakat mungkin aktif dalam kegiatan keagamaan seperti pengajian atau ibadah, akan tetapi dalam praktik sosial masih terjadi kemalasan, ketidak-jujuran, kurangnya semangat kerja dan sebagainya. Kondisi ini menyebabkan kehidupan sosial tidak mengalami perubahan yang berarti. 

Dari uraian tersebut, bahwa ungkapan“hidup segan, mati tak mau”. Dalam kajian sosiologi agama menjelaskan bahwa, agama sebenarnya memiliki peran penting sebagai sumber makna, motivasi, dan kekuatan moral yang mampu mendorong manusia untuk keluar dari kondisi stagnasi tersebut. Nilai-nilai agama seperti: kerja keras, tanggung jawab, kejujuran, dan solidaritas sosial seharusnya menjadi energi sosial yang menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik untuk menjanjikan masa depan mereka yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu, fenomena “hidup segan, mati tak mau” tidak hanya menjadi gambaran kondisi individu, akan tetapi juga menjadi refleksi bagi masyarakat dan para pemimpin sosial untuk memperkuat kembali peran agama dalam kehidupan sosial. Ketika nilai-nilai agama mampu diinternalisasi secara nyata dalam tindakan sosial, maka masyarakat tidak hanya sekedar bertahan hidup, akan tetapi juga memiliki harapan, semangat perubahan, dan masa depan yang lebih bermakna. Wallahu a’lam bis-sawabberarti: “Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.”


Tidak ada komentar